BMKG kukuhkan Kelurahan Tanjung Benoa jadi Komunitas Siaga Tsunami

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengukuhkan Kelurahan Tanjung Benoa, Badung, Bali, sebagai Komunitas Siaga Tsunami internasional UNESCO-IOC, atau Tsunami Ready Community.

Peresmian tersebut dilakukan dalam rangkaian Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke-7 di Bali, Sabtu.

Sertifikat Pengakuan disampaikan oleh Director of the UNESCO Regional Science Bureau for Asia and the Pacific Mohamed Djelid didampingi Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Gubernur Bali, dan Senior Advisor UNDP Bangkok Regional Sanny Jegillos.

Baca juga: Kepala BMKG tawarkan lima rumusan bangun ketangguhan holistik

"Tanjung Benoa ini adalah komunitas di Indonesia yang pertama kali mendapatkan pengakuan internasional UNESCO-IOC sebagai Tsunami Ready Community. BMKG telah memprakarsai Sekolah Lapang Tsunami Ready guna mendukung program Tsunami Ready di Indonesia. Sekolah Lapang tersebut bahkan merupakan Program Prioritas Nasional untuk mewujudkan masyarakat yang siaga menghadapi gempa dan tsunami," ujar Dwikorita.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyampaikan bahwa Tsunami Ready adalah program peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami dengan berbasis pada 12 indikator yang telah ditetapkan UNESCO-IOC.

"Menyiapkan masyarakat Tanjung Benoa sebagai Tsunami Ready Community adalah tepat, mengingat hampir seluruh wilayahnya dikelilingi lautan dan berhadapan dengan zona Megathrust Selatan Bali sebagai sumber gempa bumi potensi tsunami yang memiliki magnitudo maksimum 8,5," katanya.

Baca juga: Megawati mendorong perkuat organisasi meteorologi dunia

Tahun 2022, BMKG telah mengusulkan 7 komunitas termasuk Tanjung Benoa, untuk mendapatkan pengakuan Tsunami Ready Community dari UNESCO. Enam komunitas lainnya yaitu Panggarangan-Lebak, Pangandaran, Glagah-Kulon Progo, Kemadang-Gunung Kidul, Tambakrejo-Malang, dan Kuta-Mandalika Lombok, dalam proses pengakuan internasional tersebut.

Menurut dia, Tsunami Ready Community akan tercapai apabila dilakukan secara kolaboratif melibatkan semua pihak, sehingga 12 indikator yang ditetapkan oleh UNESCO dapat dipenuhi dengan baik. Oleh karenanya, Kelurahan Tanjung Benoa telah melibatkan banyak pihak untuk mewujudkan hal tersebut.

Melalui pendampingan BMKG, Kelurahan Tanjung Benoa telah memiliki Peta Bahaya Tsunami agar masyarakat memahami zonasi bahaya tsunami di wilayahnya. Sebanyak tujuh hotel di wilayah Tanjung Benoa, yaitu Peninsula Bay Resort, Benoa Sea Suites Villas, Grand Mirage Resort, Ion Bali Benoa, Rasa Sayang, Novotel, dan The Sakala Resort telah menyiapkan tempat evakuasi tsunami vertikal yang selain dapat digunakan oleh tamu, juga oleh masyarakat sekitar.

Baca juga: BMKG dorong komunitas internasional bangun sistem peringatan dini

Dalam menyiapkan indikator kesiapsiagaan, Tanjung Benoa juga telah melibatkan sekolah untuk melatih siswa melakukan simulasi gempa bumi dan tsunami secara rutin. Papan rambu arah dan peta evakuasi tsunami telah terpasang melalui kerja bersama BMKG, BPBD Provinsi Bali dan Kabupaten Badung, dan organisasi internasional UNDP.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel