BMKG Ungkap Tumpukan Fenomena Alam Picu Hujan Ekstrem Awal 2021

Hardani Triyoga, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan terjadinya penumpukan fenomena alam di sekitar wilayah Indonesia. Fenomena ini yang menyebabkan intensitas hujan ektstrem sepanjang awal 2021.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, pada periode Januari sampai dengan April 2021 akan terjadi peningkatan intensitas hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dia menjelaskan fenomena ini berbeda dengan beberapa wilayah di muka bumi ini yang cuaca ekstrem hanya dipicu La Nina. Menurutnya, tumpukan fenomena ini dapat memperburuk cuaca pada 2021.

"Sampai 40-80 persen kalau La Nina saja 40 persen. Poin itu yang mengakibatkan terjadinya cuaca ekstrem yang perlu diwaspadai sampai April," kata dia dalam sebuah diskusi virtual, Selasa, 2 Februrari 2021.

Menurutnya, fenomena pertama yang memperburuk cuaca di Indonesia diawali dengan mendinginnya suhu muka air laut di Samudera Pasifik awal tahun ini. Lalu, suhu perairan Indonesia menghangat.

"Semakin hangat saat ini meningkat 4 derajat Celcius hingga saat ini suhu sudah mencapai 29 derajat. Dampaknya terjadinya perbedaan tekanan udara antara Samudra Pasifik dan perairan Indonesia," tuturnya.

Dia menambahkan, fenomena itu menyebabkan terjadinya aliran massa udara basah yang sangat signifikan di wilayah Indonesia. Pun, memunculkan fenomena meningkatnya pembentukan awan-awan yang berasal dari Samudera Pasifik.

Kemudian, dia melanjutkan, Indonesia juga dihadapkan dengan fenomena Monsun Asia. Fenomena ini karena angin yang bertiup dari Benua Asia menuju ke wilayah Indonesia membawa uap air dan berakibat terjadinya musim hujan.

Puncak dari kondisi itu katanya adalah Januari 2021 sampai Februari 2021. Akan tetapi, fenomena itu dikatakannya diiring dengan pergerakan klaster atau gerombolan awan-awan dengan skala masif.

Pergerakan awan-awan itu katanya pada dasarnya dari Samudera Hindia ke Samudra Pasifik, Namun, terlebih dahulu melalui Kepulauan Indonesia. Fenomena ini dikenal dengan Madden Julian Oscillation.

"Ini mengakibatkan peningkatan pembentukan awan-awan di Indonesia yang sudah ada La Nina, ada Monsun Asia diperparah dengan awan Samudra Hindia yang disebut Fenomena Madden Julian Oscillation," ujarnya.

Selain itu, Dwikorita mengatakan ada juga fenomena pertemuan angin dari arah utara dengan angin yang berasal dari arah selatan, tepatnya Australia di Jawa dan Nusa Tenggara Timur.

"Masih ada gelombang atmosphere yang berada di equator plus ada siklon di Samudra Hindia yang di dekat perairan Indonesia. Sehingga, kami memprediksi secara total peningkatan curah hujan," tutur dia.