BNI lakukan program "milenial smartfarming" di Klaten

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) melanjutkan upaya menggerakkan kehidupan perekonomian masyarakat melalui program "milenial smartfarming" bagi petani muda di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Program "milenial smartfarming" merupakan ekosistem pemberdayaan milenial melalui pembinaan dan pengembangan ekosistem pertanian digital (Internet of Things) dari hulu ke hilir serta meningkatkan inklusi keuangan desa.

Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto dalam pernyataan di Jakarta, Rabu, menjelaskan Kabupaten Klaten menjadi lokasi kedua untuk program ini, setelah Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, karena keunikan yang dimiliki.

Saat ini, Klaten merupakan pusat penghasil beras Rojolele yang merupakan varietas asli Klaten atau beras Delanggu yang dikenal lebih nikmat daripada daerah lainnya karena ditanam di tanah dan air yang tak dimiliki daerah lain.

"Peran BUMDes di desa ini pun menambah optimisme kami bahwa program ini dapat dijalankan dengan baik. Namun yang tidak kalah penting adalah adanya peran milenial," katanya.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, terdapat serangkaian aktivitas, seperti coaching clinic kepada petani milenial mengenai penggunaan aplikasi Agree Suites untuk pendataan petani dan offtaker.

Selain itu, para petani muda juga dilatih menggunakan alat sensor cuaca dan tanah sebagai bagian dari CSR BNI yang dilanjutkan dengan kegiatan pemupukan massal secara simbolis dengan menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat.

BNI dalam kegiatan ini juga memberikan akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani serta pendampingan kepada petani milenial dalam memanfaatkan teknologi digital dan informasi pada aktivitas ekosistem pertanian dan menumbuhkan peranan offtaker dalam penyerapan hasil pertanian.

Dalam kesempatan ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersyukur petani muda mulai dilibatkan dalam penerapan teknologi digital di budidaya pertanian, yang bisa menjadi lompatan besar bagi sektor pertanian, khususnya di Jawa Tengah.

"Kita tidak perlu impor untuk komoditas yang justru menjadi keunggulan kita. Saya harapkan program ini bisa dikawal dengan baik bersama-sama dan tercapainya reformasi dunia pertanian secara modern," katanya.

Salah satu petani milenial, Gatot Subroto, yang hadir dalam kegiatan ini mengaku optimistis bisa menjalankan program tersebut dan panen akan meningkat jika teknologi dapat digunakan secara maksimal.

Penerapan aplikasi dan teknologi pertanian menjadi sangat penting karena selain pendataan, juga dapat menghubungkan antara petani dengan mitra lainnya, antara lain offtaker, koperasi dan Badan Usaha Milik Desa (BumDes).

"Digitalisasi sistem pertanian di Indonesia memang sangat menguntungkan bagi semua pihak, terlebih lagi bila didukung oleh semua pihak tidak hanya petani, tetapi juga para stakeholder terkait," katanya.

Sementara itu, BNI mencatat realisasi KUR di sektor pertanian hingga Maret 2021 telah mencapai Rp2 triliun serta menyentuh 50 ribu penerima KUR di seluruh Indonesia.

Baca juga: BNI dukung penguatan sektor pertanian dengan Milenial Smartfarming
Baca juga: BNI garap pasar milenial optimalkan layanan digital
Baca juga: BNI genjot penyaluran KPR bagi milenial