BNI tegaskan batal lakukan right issue di 2022

·Bacaan 2 menit

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menegaskan bahwa right issue di tahun 2022 batal dilakukan lantaran pertumbuhan laba perseroan menunjukkan tren yang positif.

"Artinya penambahan modal secara organik dari profitabilitas ini sangat bisa diharapkan dari tahun-tahun serta kuartal-kuartal yang akan ke depan, sehingga kami rasa kami tidak lagi memerlukan right issue," kata Direktur Keuangan BNI Novita Widya Anggraini dalam Public Expose Kuartal I 2022 di Jakarta, Selasa.

Dengan demikian, ia menyebutkan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemangku kebijakan terkait mengenai pembatalan rencana right issue di tahun ini.

Pada Maret 2022, rasio kecukupan modal inti BNI mencapai 17,3 persen, jauh di atas ketentuan regulator.

Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) pun tercatat berada pada posisi 19,3 persen atau naik 120 basis poin pada triwulan I.

Selain itu, Novita menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu ini.

"Jadi kami melihat bahwa dengan kondisi permodalan BNI yang sampai dengan Maret 2022 ini sudah cukup baik dan mampu mengantisipasi pertumbuhan BNI di masa yang akan datang. Kami tidak akan melakukan right issue lagi," tegasnya.

Dalam masa pemulihan ekonomi awal tahun ini BNI, kata dia, memperkuat posisi permodalan dan likuiditas agar menjadi pondasi dalam melanjutkan kestabilan kinerja sekaligus menopang pertumbuhan bisnis lebih positif.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dengan rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) masih mendominasi dan terus meningkat menjadi 69,2 persen dari periode sama tahun lalu 67,9 persen.

Menurut dia, pertumbuhan dana murah mendorong perbaikan Cost of Fund dari 1,74 persen pada akhir kuartal pertama 2021 menjadi 1,46 persen pada kuartal pertama 2022.

Ruang untuk ekspansi pun masih terbuka, yang ditunjukkan dari loan to deposit ratio yang berada pada 85,02 persen.

Baca juga: Bisnis internasional BNI tetap tumbuh di tengah konflik Rusia-Ukraina
Baca juga: BNI optimistis kredit tumbuh lebih kuat setelah Lebaran
Baca juga: BNI: Restrukturisasi kredit pandemi membaik, turun jadi Rp69,6 triliun

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel