BNN Miliki Laboratorium Baru di Samarinda, Bisa Teliti Narkoba Jenis Baru

Merdeka.com - Merdeka.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) punya laboratorium baru di Samarinda, Kalimantan Timur. Laboratorium itu disebut lebih canggih dari yang ada di markas BNN di Jakarta. Di antaranya bisa digunakan untuk meneliti jenis zat narkoba baru.

Laboratorium itu berlokasi di area Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah, di jalan poros Samarinda-Bontang. Penggunaannya diresmikan hari ini oleh Kepala BNN RI Komjen Pol Petrus Reinhard Golose.

Keberadaan laboratorium BNN RI di Samarinda menjadi yang keempat di Indonesia setelah di Jakarta, Sulawesi Selatan dan di Medan, Sumatera Utara. Meski demikian pengoperasiannya tetap dalam kontrol BNN pusat.

Golose menerangkan laboratorium BNN RI di Samarinda untuk melayani kebutuhan pemeriksaan barang bukti dan penelitian di Kalimantan, yang berbatasan dengan negara lain seperti Malaysia.

"Laboratorium ini perlu karena kita juga akan mendeteksi narkoba penyerahan dari penyidik, kemudian masalah lain new psychoactive substances (NPS) atau zat baru narkotika," kata Golose ditemui di lokasi laboratorium BNN RI di Samarinda, Rabu (9/11).

Di dunia saat ini terdeteksi ada 1.127 narkoba jenis baru atau NPS. Sedangkan di Indonesia, dari pemeriksaan laboratorium dan monitoring baru terdeteksi 91 jenis.

"Misalnya setelah diungkap atau ditangkap penyidik BNN, maupun penyidik Polri, itu akan dianalisa untuk dilihat kandungannya, prekursornya, sekaligus dilakukan penelitian kandungan dari barang-barang bukti tersebut," tutur Golose menambahkan.

Masih disampaikan Golose, laboratorium di Samarinda juga menjadi laboratorium forensik narkotika.

"Di laboratorium BNN RI di Samarinda ini menggunakan computerize tapi untuk narkotika. Spesial, keilmuannya lebih spesifik. Peralatan di sini lebih bagus (dibanding) dari yang ada di pusat (laboratorium di markas BNN RI di Jakarta) karena ini versi terbaru," terang Golose.

Menurut Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor peralatan di laboratorium buatan Amerika Serikat. Nantinya akan bekerja sama dengan Universitas Mulawarman Samarinda untuk kepentingan penelitian narkotika.

"Kerja sama dengan Universitas Mulawarman itu penting karena Universitas Mulawarman itu lembaga pendidikan, ilmiah, yang bisa mengembangkan keilmuan. Alat yang ada di Universitas Mulawarman ini belum seperti di laboratorium ini. Dan ini bisa digunakan nanti setelah ada MoU (Memorandum Of Understanding)," pungkas Isran. [cob]