BNN: Pasien Narkoba Tidak Boleh Dipidana

Makassar (ANTARA) - Ketua Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal (Pol) Goris Mere menyatakan, korban pengguna aktif narkoba tidak boleh dipidana berdasarkan Undang Undang Narkotika dan harus dimasukkan dalam tempat rehabilitasi yang telah disiapkan oleh pemerintah.

"Setiap pengguna narkotika berhak memperoleh pelayanan medis karena pengguna narkotika bukanlah sebagai pelaku tindak pidana melainkan hanya korban dari peredaran gelap bisnis narkoba," ujarnya saat sambutan dalam Sosialisai Operasionalisasi Balai Rehabilitasi Korban Penyalahgunaan Narkoba, Baddoka, Makassar, Kamis.

Ia mengatakan, setiap korban pengguna narkotika yang telah didata oleh petugas balai rehabilitasi akan diberikan kartu pasien yang menerangkan jika korban harus mendapat terapi dari tim psikiater. Setiap korban pemegang kartu kontrol itu berhak mendapatkan pengobatan dan tidak boleh dipidana meskipun korban berulang kali ditangkap petugas kepolisian sedang menggunakan narkoba.

Tetapi, penggunaan kartu kontrol itu juga mempunyai batasan yang hanya berfungsi selama tiga kali. Jika korban pengguna narkoba sudah mendapat kebijaksanaan sebanyak dua kali oleh kepolisian, maka pasien itu sudah tidak lagi dikembalikan ke tempat rehabilitasi melainkan dikirim ke penjara khusus karena sudah mengulangi perbuatannya lebih dari tiga kali.

"Kartu kontrol atau kartu pasien itu hanya bisa dibijaksanai sebanyak dua kali dan ketika perbuatan itu diulangi dan tertangkap polisi untuk ketiga kalinya, maka polisi berhak mengirimnya ke pengadilan untuk diadili," katanya.

Maka dari itu, lanjut perwira tinggi kepolisian ini, pasien narkoba harus membuat komitmen untuk direhabilitasi dan disembuhkan dari ketergantungannya supaya bisa melanjutkan karier dan pendidikannya yang sedang menjalani proses pendidikan.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, jumlah pengguna narkotika di Sulawesi Selatan yang tercatat sekitar 120 ribu jiwa lebih dari total penduduk yang berjumlah sekitar 8,2 juta jiwa.

Rektor Universitas Hasanuddin Makassar Prof Dr dr Idrus Patturusi yang hadir dalam sosialisasi itu mengaku Jika Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan telah melakukan kerjasama dengan Univeristas Hasanuddin Makassar dalam penyediaan tenaga teknis untuk dalam proses rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

"Kedepannya kerjasama ini dalam hal penyediaan tenaga teknis untuk pendampingan kepada para korban rehabilitasi narkoba," ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu bentuk kerjasama yang direncanakan yakni penyediaan tenaga psikiater dari Fakultas Kedokteran Unhas serta pendampingan lainnya dari pihak kampus untuk korban narkoba.

Bukan cuma itu, ia juga mengatakan akan menjadikan balai rehabilitasi ini sebagai tempat pendidikan bagi mahasiswa utamanya bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas.

"Kami juga akan menjadikan balai rehabilitasi ini sebagai tempat pendidikan untuk mahasiswa-mahasiswa fakultas kedokteran yang mengambil spesifikasi pendidikan psikiatet," katanya.

Idrus mengakui rumah sakit khusus di Makassar yang menangani pasien dengan kondisi kejiwaan yang labil masih sangat terbatas karena hanya ada di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dadi Makassar di Jalan Lanto Daeng Pasewang, Makassar.

Dengan adanya gedung rehabilitasi khusus korban narkoba yang mempunyai luas lahan sekitar 2,5 hektare di Baddoka Makassar ini akan menjadi pusat rehabilitasi di luar pulau Jawa dan tentunya dengan tenaga psikiater yang bisa konsentrasi di balai rehabilitasi ini. (rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.