BNN: Penyalahgunaan Obat Terlarang Meningkat 1,95 Persen saat Pandemi Covid-19

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Petrus Reinhard Golose mengatakan, untuk angka prevalensi atau populasi menggunakan drug abuse di Indonesia meningkat walaupun dalam suasana Pandemi Covid-19.

"Kita, ketahui bersama angka prevalensi drug abuse di Indonesia meningkat. Walaupun dalam suasana Covid-19. Jadi dari 1,8 persen menjadi 1,95 persen, berarti naik sekitar 0,15 persen walaupun dalam situasi Covid-19," kata Petrus, saat ditemui di Auditorium Widyasaba, Kampus Universitas Udayana, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (19/20).

Namun, pihaknya untuk mengatasi hal itu dengan strategi pemberantasan atau penanggulangan narkotika dengan soft power dan rehabilitasi bagi penyalahguna narkotika serta bekerjasama dengan pihak terkait.

"Tentunya, bagaimana kita melakukan pencegahan. Kemudian bagaimana kita melakukan empowering atau pemberdayaan masyarakat dan bagaimana kita melangsungkan rehabilitasi," imbuhnya.

Ia juga menyebutkan, untuk tingkat hunian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Kota-kota besar di Indonesia termasuk di Bali sudah lebih dari 70 persen.

"Saat ini, tingkat hunian di Lapas kota-kota besar termasuk di Bali, termasuk di tempat yang lain juga lebih dari 70 persen. Jadi, kalau kita liat prevalensi tadi 1,8 persen naik 1,95 persen. Tingkat hunian (di Lapas) juga meningkat di Lembaga Permasyarakatan.
Tapi kalau kita liat juga prevalensi dibandingkan dengan dunia kita masih di bawah," ujarnya.

Petrus Reinhard Golose menegaskan, bahwa pihaknya tetap menolak adanya legalisasi ganja di Indonesia. Kendati, ada sejumlah negara lainnya yang sudah melakukan legalisasi itu.

"Saya, tetap konsisten untuk tidak melegalisasi ganja," kata Petrus, saat ditemui
di Auditorium Widyasaba, Kampus Universitas Udayana, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (19/20).

Ia menegaskan, bahwa tidak ada pembahasan legalisasi ganja di Indonesia walaupun di negara lain ada soal pembahasan tersebut. "Tidak ada, sampai sekarang pembahasan untuk legalisasi ganja. Jadi, kalau di tempat lain ada, di Indonesia tidak ada," ungkapnya.

Menurutnya, memang ada sejumlah negara yang sudah melegalisasi ganja. Tetapi, lebih banyak negara yang tidak melakukan legalisasi ganja.

"Dari banyak negara masih lebih banyak negara tidak melegalisasi. Jadi, kita tahu bahwa di ganja ada dua THC dan CBD itu ada dua bagian. Namun, kita tahu seperti di Nagera Amerika Serikat, itu federal-nya masih melarang, state-nya membolehkan. Tapi itu, biarkan di negara yang lain," ujar Petrus. [ded]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel