BNPB: Banjir di Kalimantan pengulangan bencana tahun-tahun sebelumnya

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir yang terjadi di Kalimantan dalam waktu 1-7 Agustus 2022 merupakan pengulangan dari bencana banjir di tahun-tahun sebelumnya.

Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam Disaster Briefing daring diikuti di Jakarta, Senin (8/8) malam, menjelaskan banjir di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah terjadi beberapa periode.

Banjir di Kapuas Hulu tanggal 4-5 Agustus, ada 4.015 KK atau 13.335 jiwa terdampak, 2.984 unit rumah terendam, 1 jembatan rusak dan lain-lain.

"Kalau kita lihat tren kejadian bencana di Kabupaten Kapuas Hulu memang dari dua tahun atau tiga tahun terakhir ini dari 2020, 2021 dan 2022 dominan itu adalah banjir, sangat dominan banjir," kata Abdul.

Baca juga: BMKG sebut banjir di Kalimantan Selatan dipicu hujan ekstrem

Dijelaskan, Presiden RI Joko Widodo memberi perhatian, atensi yang sangat besar kepada daerah tersebut, agar bagaimana caranya harus merestorasi kawasan sepanjang daerah sungai, kawasan resapan air supaya pada musim hujan tahun ini dapat mengurangi potensi risiko banjir.

Dari hasil overlay dengan peta bahaya banjir, Abdul mengatakan seharusnya daerah tangkapan air dapat dipulihkan dan dihijaukan, agar dapat menyerap air dan meminimalisasi potensi bahaya banjir.

Berikutnya, untuk Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Abdul berpesan agar tidak terjadi pengulangan kejadian banjir saat menghadapi musim hujan 2022 yang diprediksi mulai pada September-Oktober.

Untuk itu, diperlukan upaya mengoptimalkan saluran-saluran air, baik saluran primer, sekunder, dan tersier.

"kalau ada tanggul-tanggul yang kurang kuat yang akan memungkinkan limpasan air, segera kita perkuat. Jangan ada sampah di saluran air dan daerah-daerah sepanjang aliran sungai harus kita pulihkan," kata dia.

Banjir di Kabupaten Katingan menyebabkan 733 KK terdampak, dan 409 rumah terdampak.

Meski di Kalimantan Tengah proporsi kejadian bencana lebih banyak oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Abdul berpesan agar seluruh pihak tetap waspada, karena nantinya akan memasuki musim penghujan.


Baca juga: BNPB: Banjir di Tanah Laut Kalsel sebabkan 1.312 jiwa terdampak
Baca juga: Kepala BNPB: Harus ada target cegah banjir di Kalteng tak berulang