BNPB: Belum Ada Laporan Kasus COVID-19 di Tempat Pengungsian Banjir NTT

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati menyampaikan, belum ada laporan kasus positif COVID-19 di tempat pengungsian bencana banjir bandang Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kasus COVID-19 sampai saat ini (di pengungsian banjir NTT) belum ada laporan. Yang jelas diupayakan sebisa mungkin bagaimana protokol kesehatan tetap dilakukan," ujar Radit saat konferensi pers Pasca Banjir Bandang Provinsi Nusa Tenggara Timur di Graha BNPB, Jakarta, Rabu, 7 April 2021.

Apabila terdapat kasus COVID-19 atau terjadi klaster pengungsian warga yang terdampak banjir bandang NTT, BNPB akan memberikan laporan secara terbuka.

"Kami akan update (perbarui laporan) bila ada klaster di pengungsian banjir NTT," kata Radit.

Lebih lanjut, Radit mengatakan, sewaktu terjadi gempa Sulawesi Barat beberapa waktu silam, penanganan bencana dan pengungsi berhasil menurunkan angka COVID-19. Bahkan tidak ada kasus COVID-19 di pengungsian.

"Kita berharap juga kali ini (pengungsian banjir NTT) tidak ada kasus COVID-19. Protokol kesehatan tetap dilakukan," ujarnya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Tempat Pengungsian Banjir NTT Manfaatkan Bangunan

Pengungsi banjir bandang beristirahat di tempat penampungan sementara di Lewoleba Timur, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/4/2021). Tim penyelamat terus menggali puing tanah longsor untuk mencari korban yang terkubur usai bencana banjir bandang. (AP Photo/Ricko Wawo)
Pengungsi banjir bandang beristirahat di tempat penampungan sementara di Lewoleba Timur, Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/4/2021). Tim penyelamat terus menggali puing tanah longsor untuk mencari korban yang terkubur usai bencana banjir bandang. (AP Photo/Ricko Wawo)

Untuk tempat pengungsian bagi warga terdampak banjir bandang NTT memanfaatkan bangunan atau gedung, seperti balai desa dan bangunan sekolah. Hal ini karena cuaca ekstrem yang masih terjadi, sehingga rentan bila pengungsian ditempatkan di tenda.

"Memang benar masih ada pengungsi yang di tenda. Tapi kami upayakan untuk memanfaatkana bangunan lain," ujar Raditya Jati.

"Kalau diingat-ingat saat kejadian Gunung Merapi erupsi, tempat penyintas terklaster. Jadi, jelas kelompok rentan terbagi, termasuk ibu hamil, anak, balita, dan lansia. Tentunya, untuk di pengungsian banjir NTT ini butuh effort (kerja keras) ya paling tidak mereka mengungsi di rumah keluarga atau saudara terdekat."

Di sisi lain, pelayanan kesehatan bagi korban banjir NTT terus dilakukan. Logistik alat kesehatan juga dikirimkan Kementerian Kesehatan.

"Bantuan pelayanan dari RS Apung belum ada info lebih lanjut. Mungkin 1-2 hari ini. Untuk rumah sakit juga, TNI Angkatan Laut akan membawa rumah sakit lapangan dan kebutuhan logistik alat kesehatan diupayakan Kementerian Kesehatan," tambah Radit.

Infografis Banjir Datang, Waspada Klaster Pengungsian

Infografis Banjir Datang, Waspada Klaster Pengungsian. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Banjir Datang, Waspada Klaster Pengungsian. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Menarik Berikut Ini: