BNPB usul bentuk platform pengelola risiko bencana berbasis komunitas

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengusulkan pembentukan sebuah platform yang bisa digunakan oleh semua pelaku pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas atau masyarakat.

Sekretaris Utama BNPB Lilik Kurniawan mengatakan platform itu dapat memudahkan proses literasi dan edukasi bencana, serta melihat berbagai perkembangan dari komunitas lain yang ada di wilayah berbeda.

"Ini menjadi hal yang penting menurut saya dan sebenarnya kita sudah mulai untuk evaluasi ini. Dalam pleno kemarin, saya usulkan adalah dengan konsep digitalisasi untuk transformasi digital untuk ketangguhan komunitas," ujarnya dalam Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas XV yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Lilik menuturkan pembuatan platform itu diambil dari InaRISK yang secara resmi diluncurkan penggunaannya oleh BNPB pada 10 November 2016 lalu. InaRISK adalah portal hasil kajian risiko yang menggunakan arcgis server sebagai data services yang menggambarkan cakupan wilayah ancaman bencana, populasi terdampak, potensi kerugian fisik, potensi kerugian ekonomi, dan potensi kerusakan lingkungan yang terintegrasi dengan realisasi pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko bencana sebagai tool monitoring penurunan indeks risiko bencana.

Melalui satu platform kebencanaan, lanjutnya, semua pihak bisa memantau situasi yang terjadi di Papua, Aceh, Sulawesi Utara, atau di tempat-tempat lain, termasuk di Jawa dan semua tempat di Indonesia.

Dalam pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas atau masyarakat, pemerintah pusat dan pemerintah daerah memfasilitasi dan memberikan sarana serta prasarana untuk mendukung langkah yang dilakukan oleh komunitas.

Baca juga: BNPB: 32 kejadian bencana selama 26 September-2 Oktober 2022

Pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas adalah sebuah pendekatan yang mendorong komunitas akar rumput dalam mengelola risiko bencana di tingkat lokal.

Gerakan yang dilakukan langsung oleh komunitas dapat mereduksi ketergantungan kepada pihak-pihak lain.

"Itulah sebenarnya bayangan saya terkait resilience. Jadi, resilience itu harus muncul dari komunitas dan merekalah yang kemudian membuat suatu gerakan mulai dari perencanaan, kemudian bagaimana membuat satu implementasi yang melibatkan semua pihak," kata Lilik.

"Kita tidak lagi bicara mengenai pentahelix, tapi sudah mulai beranjak ke multihelix," imbuhnya.

Baca juga: BNPB sebut lokalitas PRB penting dalam sikapi tragedi Kanjuruhan