BNPT akui tantangan Kaltara hadapi radikalisme

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengakui yang dihadapi tantangan Kalimantan Utara dalam menghadapi masalah radikalisme, antara lain wilayah begitu luas serta berbatasan dengan Malaysia serta dekat dengan Filipina Selatan.

Hal itu diungkapkan Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Kolonel CZI Rahmad Suhendro, di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, Kamis.

"Menghadapi tantangan ini sehingga dibutuhkan koordinasi dan kerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat serta pemangku kepentingan," kata dia, dalam pelibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme.

Luas wilayah provinsi ke-34 itu mencapai 71.827 kilometer persegi --hampir sama luas gabungan Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah-- namun dengan kelemahan infrastruktur serta jumlah penduduk hanya sekitar 700.000 jiwa.

Baca juga: BNPT: Cegah radikalisme harus dari hulu hingga hilir

Penyebaran penduduk tipis dan tidak merata serta daerah cukup luas menjadi kendala bidang pengawasan maupun berbagai aktifitas Forum Koordinasi Pencegahan Radikalisme Kalimantan Utara sebagai perpanjangan tangan BNPT dalam menjalankan tugas, misal untuk sosialisasi serta penelitian.

Beberapa kawasan hanya efektif dijangkau melalui transformasi laut dan sungai, bahkan ada yang harus menggunakan transportasi udara khususnya daerah pedalaman dan perbatasan.

Di Kalimantan Utara terungkap dalam beberapa kasus menjadi jalur perlintasan masuknya para terorisme dari luar negeri, di antaranya Filipina Selatan-Tawau dan Nunukan-Tarakan-Pulau Jawa.

Baca juga: BNPT: Perlu pendekatan regulasi hukum untuk cegah kelompok radikal

Selain itu, dilaporkan juga berkembang beberapa agama sempalan sehingga perlu mendapat perhatian khusus agak tidak berkembang luas.

"Semoga dengan dukungan semua lapisan masyarakat serta koordinasi serta kerja sama yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan masalah ini bisa kita tangani bersama," katanya.

Dari bidang program, katanya, BNPT terus melakukan inovasi, khususnya bagi muda atau generasi Z (mereka yang lahir pada 1995 sampai dengan 2010) kadang disebut juga sebagai i generation atau generasi internet agar bisa berkolaborasi, berbicara dan bertindak langsung.

Baca juga: Menkopolhukam tegaskan radikalisme dan terorisme musuh negara

"Generasi seperti ini, pola ceramah bisa jadi tidak menarik lagi, sehingga kita butuh inovasi program agar lebih mengena dalam menangkal radikalisme, bisa jadi lewat video pendek, puisi dan kreatifitas lain yang melibatkan mereka secara langsung," katanya.

Ketua FKPT Kalimantan Utara, Datu Iskandar Zulkarnaen, menyatakan, mereka terus berkoordinasi dan bekerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat dan kelompok terkait, antara lain dalam dialog kebangsaan digelar Pondok Pesantren Fatimah Az-Zahra Bulungan bekerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri, 17 Juli 2022.

Baca juga: Kiat tangkal radikalisme di sekolah

Juga dalam acara Peningkatan Kompetensi Penceramah Agama oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Utara yang melibatkan 50 dai se-Kaltara di Tarakan, 9 Juni 2022.

Kemudian terlibat dalam "Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan" bagi 30 penyuluh agama dari sejumlah kecamatan di Bulungan, 8 Juni 2022.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel