BNPT: Interaksi di medsos harus selektif putus mata rantai terorisme

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Boy Rafli Amar mengatakan kaum perempuan harus selektif dan waspada dalam berinteraksi di media sosial (medsos) untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme.

"Kita berharap Ibu-Ibu sebagai pimpinan di masyarakat atau keluarga agar hati-hati dan waspada berinteraksi di dunia maya, jaga anak-anak kita," kata Kepala BNPT Komjen Polisi Boy Rafli Amar melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Apalagi, kata Boy, keterlibatan perempuan dalam aktivitas terorisme meningkat selama 10 tahun terakhir. Peran perempuan bertransformasi dari pendukung menjadi pelaku. BNPT mencatat 18 perempuan muda Indonesia nekat melakukan aksi terorisme.

Baca juga: Boy Rafli: Budaya membentuk jati diri bangsa

"Kelompok teror kerap memanfaatkan sifat feminin perempuan makanya banyak perempuan dilibatkan selama 10 tahun terakhir," ujar Boy Rafli.

Hal tersebut disampaikannya pada kegiatan Perempuan Teladan Optimis Produktif (TOP) Viralkan Perdamaian yang diselenggarakan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara.

Kepala BNPT melihat perempuan dan anak-anak sebagai korban propaganda radikal terorisme di medsos. Selain faktor internal dalam diri perempuan itu sendiri, peningkatan peran kaum ibu dalam terorisme juga tidak lepas dari pengaruh dunia maya.

"Dunia digital ini termasuk sarana menyebarkan virus kekerasan dalam masyarakat dan berpotensi dicontoh anak-anak kita, mereka (perempuan dan anak) rentan menjadi korban propaganda tersebut," lanjut dia.

Oleh karena itu, ia berpesan agar kaum Ibu agar lebih selektif dan waspada berinteraksi di dunia maya, terutama menjaga anak-anak sebagai generasi muda bangsa.

Selain itu, perempuan juga memiliki peran besar dalam membangun ketahanan keluarga dari propaganda radikal dengan mengenalkan dan menerapkan sikap bertoleransi, moderasi beragama dan nilai-nilai luhur kebangsaan lainnya di kehidupan sehari-hari.

"Kita perlu perkuat ketahanan keluarga dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dini. Jangan sampai keluarga kita terbawa dengan paham yang bertentangan ideologi bangsa," ujarnya.

Kegiatan Perempuan TOP Viralkan Perdamaian dihadiri oleh ratusan tokoh perempuan lintas agama di Sumatera Utara. Selain itu, turut hadir pula jajaran forkopimda provinsi dan kota sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di daerah, serta Staf Khusus Bidang Kerja Sama Ulama BNPT Habib Abubakar Alatas.

Baca juga: Deputi Penindakan BNPT: Tidak boleh diam dengan munculnya radikalisme
Baca juga: BNPT: Pelestarian adat budaya efektif cegah terorisme