BNPT: Pentingnya bermuhasabah dan teladani Rasulullah dalam berbangsa

Ketua Gugus Tugas Pemuka Agama (GTPA) BNPT Mahmudi Affan Rangkuti menilai pentingnya umat untuk bermuhasabah sebagai refleksi diri dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. dengan meneladani keempat sifatnya, yakni sidik, amanah, tablig, dan fatanah.

"Hal itu terutama dalam konteks membangun kehidupan berbangsa antarumat," kata Mahmudi Affan Rangkuti di Jakarta, Jumat.

Dikemukakan bahwa momen Maulid Nabi dinanti kalangan umat Islam untuk bermuhasabah apakah para pengikutnya sudah benar itibak atau mengikuti sifat, etika, kesantunan, perkataan, dan perbuatan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Ia lantas menekankan, "Muhasabah ini urgen dan esensi untuk menjadi refleksi kita umat Islam sebagai pengikutnya."

Menurut dia, melalui sifat yang pertama, yaitu sidik atau benar, dalam konteks kekinian sejatinya umat harus cerdas dan bijaksana dalam menyampaikan serta memilah informasi agar tidak terjebak dalam pergumulan hidup pada era digital.

Kedua, amanah atau dapat dipercaya, yang bermakna bahwa umat harus waspada dalam interaksi sosial yang kini kerap diwarnai dengan pembohongan. Misalnya, pembelokan fakta terkait dengan ajaran jihad yang justru membawa pada kemudaratan, maksiat, dsb.

"Ketiga, tablig atau menyampaikan. Tentu yang disampaikan dalam hal ini adalah wahyu Allah Swt. Wahyu yang mengajak akan kebaikan. Mengajak pada hal yang baik dan maslahat bagi alam semesta berikut isinya," jelasnya dalam rilis BNPT ini.

Keempat, fatanah atau cerdas. Mahmudi menyebut sifat ini sebagai sifat yang sangat moderat. Sifat ini menggambarkan pada keseimbangan dalam menjalankan hidup. Tidak ke kiri juga tidak ke kanan. Akan tetapi, stabil berada di posisi tengah. Menyatukan, mendamaikan, dan membuat jadi normal.

Baca juga: BNPT sebut anak muda berkualitas bisa terbebas dari radikalisme
Baca juga: Potensi radikalisme pada generasi muda dan pencegahannya


Mahmudi mengutarakan bahwa umat Islam diyakini semua tahu dan memahami keempat sifat Nabi Muhammad saw. ini. Akan tetapi, mau atau tidak menjalankannya, ini problem statement-nya.

Maka, lanjut dia, dalam Maulid Nabi Muhammad saw. pada tahun ini sudah sepatutnya merenung, introspeksi dengan satu sikap muhasabah untuk memulai dengan berbicara tenang dengan hati sendiri apakah benar mencintai Nabi Muhammad saw.

Tidak hanya itu, Ketua Umum Pengurus Besar Forum Komunikasi Alumni Petugas Haji Indonesia (PB FKAPHI) ini menilai dalam konteks berbangsa dan bernegara, sejatinya Rasulullah, bahkan Islam pun telah memiliki konsep yang final dan wajib diteladani oleh segenap umat guna menyuburkan rasa cinta tanah air, bangsa, dan negara.

"Apa-apa yang sudah diwariskan Nabi Muhammad saw. sudah sangat jelas dan tak perlu untuk diperdebatkan," katanya menegaskan.

​​​​​​Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, dan itu final dalam muatan mengabdi pada bangsa dan negara.

"Tugas umat Islam adalah bagaimana menghadirkan 'Wajah Allah subḥānahu wa ta’āla' di muka bumi, dan menghadirkan 'Senyuman Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam' di peradaban saat ini," ungkapnya.

Dengan menghadirkan 'Wajah Allah Swt.' dan 'Senyuman Nabi Muhammad saw.' di muka bumi melalui itibak pada sifat Nabi, dia meyakini dengan sendirinya akan tercipta atmosfir baru dari kondisi saat ini yang sarat akan narasi yang kerap mempertentangkan bentuk negara bangsa Indonesia ini agar digantikan dengan bentuk negara dan hukum yang berlandaskan keagamaan.

Hal ini, menurut dia, karena bangsa ini sangat mengayomi terhadap keragaman suku, adat, dan budaya.