BNPT Sebut Ada Keterkaitan Bom Bunuh Diri di Makassar dan Penyerangan Mabes Polri

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar menghadiri rapat kunjungan kerja spesifik bersama Komisi III DPR RI di Polda Sulawesi Selatan. Hal tersebut dalam rangka menindaklanjuti aksi teror bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar.

Boy Rafli lantas menyampaikan terkait latar belakang pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar hingga jaringan kelompok teroris tersebut. Bahkan, peristiwa tersebut pun disinyalir berkaitan dengan aksi teror yang terjadi di Mabes Polri.

"Bersadarkan fakta yang didapat, surat wasiat pelaku penyerangan Mabes Polri mencontoh surat wasiat yang ditulis oleh pelaku bom suami istri di Makassar, seperti meminta maaf ke keluarga dan jangan pakai bank. Ini adalah hasil proses radikalisasi oleh radikal intoleran terorisme melalui media sosial," tutur Boy Rafli di Polda Sulawesi Selatan, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (1/4/2021).

Boy Rafli menegaskan akan menindaklanjuti dan berupaya melakukan upaya pencegah lebih dalam lagi kepada para generasi milenial. Pasalnya, kemajuan dunia digital saat ini membuat mudah dan maraknya konten-konten proganda serta narasi ujaran kebencian, yang tidak dapat terhindarkan.

"Untuk itu, peran keluarga juga diharapkan dapat terlibat untuk mengawasi anak-anak mereka dalam menggunakan sosial media secara baik dan benar. Langkah preventif dan represif baik soft maupun hard approach juga akan diterapkan oleh pemerintah dan aparat kemanan untuk upaya pencegahan yang lebih menyeluruh dan mendalam," tegas Boy Rafli.

Pola Baru Terorisme

Wakil Ketua Komisi III, Ahmad Sahroni menambahkan, tujuan dari rapat tersebut adalah untuk saling memberikan informasi terkini antara BNPT, Polda Sulawesi Selatan, dan DPR RI terkait penanganan kasus terorisme di Makassar.

"Komisi III DPR RI mengapresiasi kinerja aparat keamanan dan pemerintah yang bertindak cepat atas kejadian ini," kata Sahroni.

Anggota Komisi III DPR RI Supriansa menyoroti munculnya pola baru kelompok terorisme, yakni pelaku teror berasal dari generasi milenial. Lewar sosial media, tidak menutup kemungkinan terjalin korelasi antar kelompok teroris dan upayanya mempengaruhi pola pikir anak milenial.

"Terkait milenial yang direkrut menjadi bagian dari kegiatan teror, ini yang menjadi tanda tanya. Saya melihat pesan-pesan teroris menjadi tanda bagi kelompoknya untuk melanjutkan perjuangan. Ini menjadi tantangan," ujar Supriansa.

Saksikan video pilihan di bawah ini: