Boaz Solossa dan 4 Legenda yang Terpinggirkan secara Menyakitkan di Liga Indonesia

·Bacaan 8 menit

Bola.com, Jakarta - Kebersamaan 17 tahun Boaz Solossa bersama Persipura Jayapura terancam babak akhir. Penyerang berusia 35 tahun itu dirumorkan didepak dari tim karena masalah indisipliner.

Tidak hanya Boaz Solossa, pemain senior lainnya, Yustinus Pae, dikabarkan juga mengikuti jejaknya dicoret dari Persipura.

Internal Persipura bergejolak. Kabar indisipliner Boaz dan Pae mengemuka dalam dua hari belakangan.

Kabarnya, Boaz dan Pae tidak kunjung bergabung dengan pemusatan latihan tim berjulukan Mutiara Hitam itu di Batu, Malang. Padahal, Persipura sedang mematangkan persiapan untuk Liga 1 dan Piala AFC 2021.

Pelatih Persipura, Jacksen Tiago, menolak menjelaskan permasalahan yang terjadi dan meminta polemik ini untuk ditanyakan kepada Boaz Solossa dan Pae.

"Mengenai masalah kedua pemain tersebut, alangkah baiknya kalau ditanyakan langsung kepada mereka berdua, terkait alasan dan masalahnya apa," kata Jacksen kepada Bola.com, Sabtu (3/7/2021).

Ketua Persipura, Benhur Tommy Mano, melemparkan polemik ini kepada Jacksen dan kedua pemain tersebut.

"Untuk dua orang tersebut, kami tidak bisa berkomentar, mungkin bisa tanya langsung ke yang bersangkutan," tutur Benhur dinukil dari RRI, Minggu (4/7/2021).

"Untuk pemain, kami menyerahkan penuh kepada pelatih. Sebab pelatih yang dekat dengan pemain. Kalau mereka indisipliner, mereka sudah ada komitmen. Waktu tanda tangan kontrak, sudah jelas kami serahkan penuh kepada pelatih untuk mengurus dan menangani kalau ada indisipliner."

"Sebab kami butuh tim ini berkualitas dan berbuat yang terbaik untuk Papua dan sepak bola serta menjaga nama baik orang Papua," jelas Benhur.

Boaz dan Pae jelas telah berstatus legenda Persipura. Nama pertama telah memberikan lima gelar Liga Indonesia, termasuk Indonesia Soccer Championship (ISC) A kepada Mutiara Hitam, sementara nama kedua menyumbangkan tiga trofi.

Jika benar Boaz Solossa dan Pae didepak dari Persipura, keduanya bukan pemain dengan label legenda pertama yang berpisah dengan klubnya secara kurang baik. Berikut Bola.com merangkum empat legenda yang terpinggirkan dari timnya.

Eduard Ivakdalam

Eduard Ivak Dalam saat ini melatih SSB Putra Pasifik dan juga aktif bermain sepak bola di Papua, Minggu (1/5/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)
Eduard Ivak Dalam saat ini melatih SSB Putra Pasifik dan juga aktif bermain sepak bola di Papua, Minggu (1/5/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bicara soal legenda Persipura, sosok Eduard Ivakdalam, sama sekali tak boleh dilupakan.

Edu, begitu pria kelahiran Merauke, 19 Desember 1974 ini biasa disapa, melewatkan 16 tahun dengan berkiprah bersama Persipura. Ia bergabung mulai 1994 hingga terakhir berkostum Merah-Hitam pada 2010. Setelah itu ia melanjutkan karier bersama Persidafon Dafonsoro serta Persiwa Wamena.

Saat bersama Persipura, Edu tidak hanya jadi pemain tangguh dengan kemampuan bertahan maupun menyerang sama baiknya. Tidak hanya sekadar playmaker dengan visi bermain apik, tidak hanya gelandang yang punya hobi "memberi makan" striker dengan umpan matang.

Edu bukan hanya memiliki tendangan kaki kiri yang kuat, dan jadi algojo tendangan bebas maupun penalti yang akurat, namun juga memiliki sifat pemimpin dan bak ayah maupun kakak dalam tim.

Semua kualifikasi itu membuatnya mengenakan ban kapten Mutiara Hitam selama delapan dari 16 tahun masa pengabdiannya di Persipura. Ia biasa dipanggil Paitua alias Bapak Tua oleh rekan setim, terutama mereka yang lebih muda darinya.

Namun, roda kehidupan senantiasa berputar. Sebagai manusia biasa, Eduard Ivakdalam tak kuasa melawan satu hal: waktu. Seiring bergulirnya waktu, usianya bertambah. Namun, ia tak menyangka bila musim 2009/2010 bakal jadi musim terakhirnya bersama klub kebanggaan warga Jayapura dan Papua itu.

Edu menganggap masih kuat bersaing dengan pemain yang jauh lebih muda darinya kendati ketika itu usianya sudah menginjak 35 tahun. Pemain yang kini berusia 46 tahun itu lantas membeberkan kisah sedihnya bersama tim Mutiara Hitam.

Edu lantas menceritakan bila saat persiapan musim 2010/2011, di saat masih bernegosiasi kontrak dengan Ketua Umum Persipura ketika itu, MR Kambu, ia merasa disisihkan begitu saja lantaran tidak diberitahu perihal jadwal dimulainya latihan usai libur kompetisi musim 2009/2010.

"Saat saya dalam perjalanan pulang setelah bicara dengan Bapak Kambu, saya ditelpon teman-teman yang mengabari bila hari itu latihan dimulai. Saya kaget karena sebagai kapten saya merasa tidak diberitahu. Status saya saat itu masih menunggu pembicaraan kontrak tuntas. Saya pun putar balik menuju Lapangan Brimob dan benar ada latihan. Padahal, saya sempat bertanya kepada Bapak Kambu perihal jadwal latihan dan beliau menjawab tak tahu," kata Edu kepada Bola.com medio Juni 2016.

Edu kecewa. Semestinya ia tidak ditepikan begitu saja karena negosiasi belum tuntas, belum ada kepastian apapun. Ia merasa seharusnya ada komunikasi yang baik dari manajemen kepadanya.

"Selama itu saya tak pernah bermasalah dengan Persipura. Saya selalu bermain dengan hati baik, ikhlas, dari saya nol, tak punya apa-apa. Dari terima bonus mulai Rp50 ribu, Rp100 ribu. Saat jadi kapten saya juga tak mempermasalahkan nilai kontrak," bebernya.

Merasa tak lagi dibutuhkan dan seolah dipaksa menepi karena negosiasi yang tak kunjung tuntas, setelah berembug dengan sang istri, Edu memutuskan meninggalkan Persipura dan menuju Persidafon Dafonsoro.

"Untuk apa saya menunggu? Saya harus mengambil keputusan. Mereka, manajemen Persipura, bilang agar saya bersabar. Tapi saya merasa tarik ulur ini tidak tepat. Saya pun mengambil langkah pergi dari tim," tutur Edu.

Ketika Ketua Persipura memanggilnya lagi, praktis Edu sudah menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan kariernya bersama Persidafon. Buat tim tetangga Persipura itu, kehadiran Edu bak mendapatkan durian runtuh. Kendati usianya sudah beranjak tua untuk pesepak bola, kualitas sebagai jenderal lini tengah yang dimiliki Edu belum sirna.

"Persidafon bahkan kaget, tidak pernah berpikir bisa menggaet saya karena mereka berpikir saya hanya milik Persipura," kata Edu.

Atep

Pemain Persib Bandung, Atep (kanan) merayakan gol ke gawang Mitra Kukar pada babak delapan besar Piala Presiden 2017 di Stadion Manahan, Solo. Jumat (25/2/2017). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)
Pemain Persib Bandung, Atep (kanan) merayakan gol ke gawang Mitra Kukar pada babak delapan besar Piala Presiden 2017 di Stadion Manahan, Solo. Jumat (25/2/2017). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bagi publik Persib Bandung, nama Atep tidak asing lagi dan dianggap sebagai legenda hidup. Sebagai putra daerah Jawa Barat dan bertahun-tahun membela Persib, Atep menghadirkan banyak cerita untuk Maung Bandung.

Atep sudah 10 tahun ia berkarier di Persib sejak hijrah dari Persija Jakarta pada 2008. Atep ikut berperan penting dalam mengantarkan Persib meraih gelar juara ISL 2014 dan Piala Presiden 2015.

Namun, siapa sangka pemain yang dijuluki Lord Atep oleh bobotoh itu harus berpisah dengan Persib. Tepatnya pada akhir musim 2018, dan menariknya diputus kontak hanya melalui WhatsApp oleh manajemen Persib.

Cerita itu cukup mengharukan. Ia menuturkan semuanya dalam sebuah percakapan di kanal YouTube Republik Bobotoh TV. Pria bernama lengkap Atep Ahmad Rizal ini, mengaku saat dikeluarkannya dari Persib dua tahun lalu adalah momen yang bakal sulit ia lupakan.

Atep sebenarnya punya mimpi besar untuk selama mungkin berseragam Persib, bahkan hingga pensiun. Ia begitu mencintai Persib karena tim tanah kelahirannya. Atep bahkan rela hijrah dari tim rival Persib, Persija Jakarta.

"Sebenarnya yang dilakukan manajemen Persib ke pemain yang kontraknya tidak diperpanjang hampir sama, seperti Airlangga Sucipto, Toni Sucipto, dan Patrich Wanggai yaitu lewat telepon," kata Atep.

Saat diputus kontrak, Atep sedang menghadiri hajatan.

"Saat itu posisi saya di Sukabumi ada sebuah hajatan, bersama Tantan dan Jajang Sukmara dan pemain lain. Lalu dapat WA manajemen Persib, isinya bisa tidak telepon. Saya pikir membahas kontrak atau hal lain. Tapi akhirnya dalam telepon dibilang maaf Atep tidak bisa bersama Persib lagi karena ada peremajaan atau regenerasi. Jadi buat Atep sudah cukup sampai di sini," kenangnya.

Atep mengatakan dalam telepon itu, ia ingin bertemu dahulu dengan manajemen untuk menyampaikan terima kasih karena sudah 10 tahun di Persib. Ia juga mengaku kawan-kawannya sempat tidak percaya kalau diputus kontrak Persib.

Seketika itu pria kelahiran Cianjur, 5 Juni 1985 tersebut menyampaikan kabar pencoretan dirinya kepada sang istri. Jawaban istrinya cukup bijak, karena barangkali rezeki Atep tidak lagi di Persib.

Hariono

Gelandang Persib, Hariono, saat laga Torabika Soccer Championship 2016 melawan Sriwijaya FC di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Sabtu (30/4/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Gelandang Persib, Hariono, saat laga Torabika Soccer Championship 2016 melawan Sriwijaya FC di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Sabtu (30/4/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Hariono begitu emosional ketika diberikan waktu untuk berbicara di hadapan puluhan ribu suporter Persib Bandung, Bobotoh, setelah kemenangan 5-2 atas PSM Makassar di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, 22 Desember 2019.

Partai pekan ke-34 Shopee Liga 1 2019 tersebut menjadi pertandingan perpisahan Hariono dengan Persib. Setelah 11 tahun bersama, kontrak gelandang berusia 34 tahun itu tidak diperpanjang.

Sejak jauh-jauh hari, pelatih Robert Alberts dan manajemen Persib telah sepakat untuk tidak lagi menggunakan tenaga Hariono pada Shopee Liga 1 musim ini.

Keputusan itu memancing reaksi pro dan kontra. Ada yang berpendapat bahwa Persib seharusnya menghargai loyalitas Hariono yang telah bergabung sejak 2008.

Ada pula yang menyebutkan bahwa kebijakan klub berjulukan Pangeran Biru ini perlu dihargai merujuk dari kebutuhan dan strategi tim.

Saat mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan ke Bobotoh, Hariono mengungkapkan penyebab utama dirinya tersingkir dari Persib.

Mantan pemain Deltras Sidoarjo ini menyebut bahwa Robert Alberts adalah alasan mengapa manajemen tidak memperpanjang kontraknya.

"Jujur dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya ingin pensiun di Persib. Tapi sekarang, pelatih tidak menginginkan keberadaan saya di Persib," ujar Hariono yang saat ini membela Bali United.

Hariono adalah pemain terlama di skuad Persib saat itu. Dia telah memperkuat Pangeran Biru sejak 2008.

Selama 11 tahun kariernya di Kota Kembang, Hariono berhasil mempersembahkan dua gelar meliputi trofi Liga Indonesia pada 2014 dan Piala Presiden 2015. Pada partai kontra PSM, ia mampu menutup kariernya di Persib dengan sumbangsih satu gol.

Syamsul Chaeruddin

Gelandang PSM Makassar, Syamsul Chaeruddin. (Bola.com/Abdi Satria)
Gelandang PSM Makassar, Syamsul Chaeruddin. (Bola.com/Abdi Satria)

Syamsul Chaeruddin dan PSM Makassar telah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Namun pada 2017, kedua belah pihak terpaksa bercerai.

Kala itu, Syamsul merasa tenaganya sudah tidak dibutuhkan lagi oleh PSM Makassar. Mantan pemain berusia 37 tahun itu juga ingin memberikan kesempatan kepada para pemain muda untuk berkembang di tim berjulukan Pasukan Ramang itu.

Saat itu, PSM tengah mengasah kemampuan Muhammad Arfan sebagai pengganti Syamsul. Ada pula Asnawi Mangkualam yang berposisi sama sebelum berganti peran menjadi bek sayap kanan.

Maka dari itu, Syamsul memutuskan hengkang dari PSM pada akhir 2017. Tujuan berikutnya kala itu ialah PSS Sleman yang masih berkutat di Liga 2.

"Karena di sepak bola yang namanya usia, apalagi sudah banyak pemain yang bisa berkembang kalau dikasih kesempatan, saya pikir, saya harus pindah karena saya lihat juga di beberapa laga saya tak dibutuhkan. Masih banyak pemain baru yang masih diberikan kesempatan bermain," ujar Syamsul dinukil dari wawancaranya di YouTube FERDINAND SINAGA Story.

Sepanjang musim 2017, Syamsul memang tersisihkan dari skuat utama PSM Makassar. Buktinya, mantan pemain Timnas Indonesia ini hanya tampil sebanyak enam kali.

PSM adalah klub pertama Syamsul yang dibelanya sejak 2001. Mantan pemain yang identik dengan rambut panjang ini lalu hijrah ke Persija Jakarta pada 2010 dan Sriwijaya FC pada 2011.

Memasuki pertengahan musim 2012, Syamsul diminta kembali ke PSM. Tanpa pikir panjang, jebolan Persigowa Gowa ini langsung menyetujui tawaran tersebut. Ia bahkan bersedia mengubur rasa kecewanya sempat merasa tak dibutuhkan Tim Juku Eja beberapa tahun sebelumnya.

"Kalau perasaan sedih sekali. PSM yang angkat prestasi saya. Saya memang orangnya kalau soal materi, saya tak pernah permasalahkan kontrak. Yang penting saya bisa bermain di PSM. Jadi saya pikir saatnya keluar pada waktu itu," imbuh jangkar kelahiran 9 Februari 1983 tersebut.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel