Bocah Miskin Tukang Pecah Batu Jadi Jenderal Bintang 4 TNI

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 3 menit

VIVA – Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko sama sekali tidak menyangka jika kehidupannya akan berubah 180 derajat. Masa kecil mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) ini sangat memprihatinkan. Namun berkat tekad dan kerja keras, Moeldoko mampu mengangkat derajat hidupnya dan keluarga menjadi lebih baik.

Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari situs resmi TNI, Moeldoko adalah salah satu prajurit terbaik yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat. Pria kelahiran Kediri, 8 Juli 1957, membuktikan kualitas diri dengan menjadi lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Indonesia (AKABRI) pada 1981.

Tercatat, Moeldoko pernah menduduki sejumlah posisi strategis TNI Angkatan Darat. Karier Moeldoko mulai mengkilap saat dipercaya menjadi Kepala Staf Komando Daerah Militer Jaya pada 2008. Dua tahun kemudian, Moeldoko ditunjuk sebagai Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad.

Kecemerlangan karier Moeldoko semakin menanjak, saat didapuk menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII/Tanjungpura. Setahun berselang, Moeldoko ditunjuk untuk memimpin Komando Daerah Militer III/Siliwangi, sebelum akhirnya menjadi Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pada 2011.

Dua tahun menjadi pejabat tinggi Lemhanas, Moeldoko kemudian menduduki posisi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) pada 2013.

Di tahun yang sama, Moeldoko mendapatkan promosi jabatan menjadi Jenderal TNI dengan jabatan sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Pada puncak kariernya, Moeldoko menjadi orang nomor satu di TNI saat menyegel jabatan sebagai Panglima.

Kegemilangan karier Moeldoko di dunia militer tentu tidak diraih dengan mudah. Pasalnya, Moeldoko lahir di keluarga yang sangat kekurangan. Menurutnya, kehidupannya saat ini sangat tidak terbanyang pada awalnya.

Sebab, Moeldoko sampai sempat menjadi tukang memecah batu hanya untuk mencari makan buat keluarganya dan uang jajan sekolah. Yang lebih miris, kedua orang tua Moeldoko sampai tidak mampu membeli beras hingga akhirnya hanya bisa makan jagung dan ubi.

"Awalnya enggak kebayang, wong kehidupan saya di kampung seperti itu. Bisa seperti sekarang ya enggak masuk akal lah," ucap Moeldoko.

"Harga beras mungkin karena enggak terjangkau, kita biasa makan jagung, makan ubi. Mungkin karena lingkungannya sama, jadi ya biasa-biasa saja," katanya.

Moeldoko mengisahkan, ia sempat ikut sang kakak yang disebutnya mendapatkan proyek dalam bisnis batu saat masih menjadi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain menjadi pemecah batu, Moeldoko juga sedikit menceritakan bagaimana ia harus mengambil jatah minyak di pagi hari sebelum berangkat sekolah.

Hidup susah di masa kecil, ternyata membuat Moeldoko memiliki mental yang kuat. Keprihatinan mendidik Moeldoko semakin kuat untuk menghadapi hidup hingga memutuskan mengabdikan diri kepada negara sebagai anggota TNI.

"Waktu jaman-jaman itu tidak hanya saya saja yang susah. Tetapi, hampir semua kehidupan di kampung itu mau makan susah. Saya kalau pagi-pagi sebelum sekolah saya lari jauh untuk antre minyak. Belum ada listrik waktu itu, masih pakai lampu templok," ujar Moeldoko lagi.

"Ya, saya waktu itu SMA sudah mulai kerja di batu. Kakak saya waktu itu dapat proyek. Terus saya terlibat dalam kegiatan itu. Makanya ibu saya jadi khawatir, jangan-jangan nanti sekolahnya enggak lulus. Tapi itu membuat saya lebih kuat," katanya.

Setelah pensiun dari dinas militer bersama TNI, Moeldoko dipercaya sebagai Kepala Staf Kepresidenan ke-3, menggantikan Teten Masduki sejak 17 Januari 2018.