Bocah Penggemar Elon Musk Bikin Geger Dunia Penerbangan

Lazuardhi Utama, Editor DW Indonesia, DW Indonesia
·Bacaan 2 menit

Nama "Kapten" Graham Shema mewarnai pemberitaan media massa dan media sosial di Uganda. Bahkan, Duta Besar Jerman untuk Uganda serta Menteri Transportasi Jerman telah mengundangnya untuk bertemu.

Shema merupakan seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang menyukai matematika dan sains. Siswa sekolah dasar itu juga telah menjadi bagian dari peserta pelatihan terbang sebanyak tiga kali, dengan menggunakan pesawat Cessna 172.

Ia bercita-cita ingin menjadi pilot dan astronot, serta berkeinginan suatu hari nanti dapat bepergian ke Planet Mars. "Idola saya adalah Elon Musk. Saya suka dia (Elon Musk) karena saya ingin belajar darinya tentang luar angkasa, pergi bersamanya ke luar angkasa, dan berjabat tangan,” kata Shema.

Suatu hari di Bandara Internasional Entebbe Uganda, seorang instruktur penerbangan meminta Shema menjelaskan cara kerja mesin pesawat Bombardier CRJ9000 yang diparkir di landasan.

Suaranya yang kalah kencang dari deru mesin pesawat yang sedang menyala, Shema menjawab: "Saluran mesin menyedot udara dan menyalurkannya ke kompresor, kompresor meremas udara dengan kipas, setelah meremasnya dengan kipas, mesin itu menjadi panas," kata Shema, dengan bercanda memberi isyarat dan melanjutkan dengan detail proses mesin menciptakan daya dorong.

Shema alami insiden janggal

Ketika Shema berusia 3 tahun dan sedang bermain di luar rumah, sebuah helikopter milik polisi terbang sangat rendah hingga menghancurkan atap rumah neneknya di pinggiran ibu kota Uganda.

"Kejadian itu memicu sesuatu di benaknya," kata ibu Shema, Shamim Mwanaisha. Sejak saat itu, Shema terus bertanya-tanya tentang bagaimana pesawat bekerja, katanya.

Tahun lalu, sang ibu menghubungi akademi penerbangan lokal ketika Shema mulai mempelajari tentang suku cadang pesawat dan kosakata penerbangan. Setelah lima bulan kursus, Mwanaisha membayar praktik terbang untuk putranya.

"Saya merasa seperti burung yang terbang," kata Shema mengenang pengalaman penerbangan pertamanya. Dia belum pernah terbang dengan pesawat sebelumnya. Shema telah terbang sebanyak tiga kali sebagai co-pilot pada Januari dan Maret sebelum pandemi menghentikan semua aktivitas.

Sejak saat itu Shema fokus pada teori dan mendalami pengetahuan penerbangan melalui video. Dia juga senang menggali wawasan terkait eksplorasi ruang angkasa. ha/rzn (Reuters)