Bocah SD Paku Tangan Temannya

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Peristiwa miris terjadi di Sekolah Dasara (SD) Negeri Ngaliyan 5, Semarang, pada Rabu (5/6/2013). Sorang siswa kelas IV, Fero, dikeroyok enam teman sekelasnya. Tidak hanya dihajar, sebatang paku juga ditancapkan anak-anak itu pada korban.

"Saya dikeroyok enam tujuh teman sekelas di ruangan kelas, Rabu (6/6) pagi. Satu orang (pelaku- Red) menancapkan paku di tangan kanan saya," kata Fero, terbata-bata, saat melapor Ke Mapolresta Semarang, Kamis (6/6/2013).

Fero datang didampingi kakaknya, Regina Wijaya (30), sembari membawa surat keterangan hasil visum dari dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tugurejo, Tugu, Semarang.

Bocah yang tinggal di Perumahan Wahyu Asri, Ngaliyan, masih sesekali meringis kesakitan, saat memberikan keterangan pada polisi. Ia beberapa kali terlihat mengelus pernban putih yang melilit di tangan Fero.

Peristiwa miris itu terjadi pada sekitar pukul 09.00. Saat itu, Fero dan enam teman sekolahnya keluar kelas saat jam istIrahat. Ketika berjalan menuju pintu, Fero marah karena enam temannya menginjak sepatunya.

Fero dan enam anak SD itu kemudian terlibat adu mulut. Layaknya adegan film, enam siswa tersebut kemudian menantang Fero. Meski sendirian, Fero pun melayani tantangan itu dan menyelsaikan perkara ‘injak sepatu’ itu di luar sekolah.

Mereka kemudian menuju areal permakaman tak jauh dari sekolah. Di tempat itu, perkelahian enam lawan satu pun terjadi dan Fero menjadi bulan-bulan enam anak itu. Perkelahian itu berakhir, ketika bel tanda waktu istirahat habis berbunyi. Mereka kemudian berlari menuju ruang kelas.

Seperti tak terjadi apa-apa, tujuh siswa itu mengikuti pelajaran secara baik. Namun, di tengah jam pembelajaran berlangsung, guru itu keluar kelas untuk suatu keperluan. "Saat guru keluar, enam siswa mengeroyok saya lagi,” kata Fero.

Enam siswa itu menghajar Fero di dalam ruang kelas hingga dia tersungkur. Saat itulah enam anak itu menginjak-injaknya. “Saya hanya bisa diam, Tak kuat melawan,” kata Fero lugu.
Dalam kondisi tak berdaya, kata Fero, dua di antara enam siswa mengeluarkan sebuah paku dari kantung bajunya. Hanya dalam hitungan detik, paku itu kemudian ditancapkan pada tangan kanan Fero. “Ada dua anak yang menancapkan paku itu,” tambahnya.

Darah segar pun mengucur dari tangan Fero dan membasahi lantai kelas. Melihat hal itu, enam siswa terdiam kemudian kembali ke bangku mereka. Sejumlah siswa yang menyaksikan kejadian tersebut, hanya bisa menjerit.

Mendengar ada kegaduhan di ruang kelas empat, anak-anak di kelas V dan VI keluar ruangan dan kemudian masuk ke ruang kelas IV. Mereka kemudian menolong Fero dengan cara membawanya ke ruang guru untuk mendapat pertolongan. Seorang kakak kelas Fero kemudian melaporkan pengeroyokan ini pada guru di SDN itu. Pihak sekolah pun segera mendamaikan mereka.

Saat jam pelajaran usai, para siswa di SDN itu pun pulang, termasuk Fero dan enam siswa yang melakukan pengeroyokan.

Rini Setiyowati (51), ibu Fero pun kaget, saat melihat putranya pulang dengan baju berlumuran darah."Dia (Fero) juga sesak napas dan hidungnya sempat mengeluarkan darah,” kata Rini.

Rini pun segera memberikan pertolongan pada anaknya kemudian membawanya ke rumah sakit. Di instalasi medis itu, korban juga meminta surat keterangan visum.

Baca Juga:

  • Djarum Black Dyno Attraction Roadshow 2013 Sambangi Semarang
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.