Bola Ganjil: Comeback Mustahil Bisa Timnas Indonesia Terapkan di Final Piala AFF

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sepak bola menunjukkan misi mustahil seperti dalam serial televisi dan film Mission: Impossible masih bisa diselesaikan. Hal itulah yang membuat cabang olahraga ini terpopuler di muka bumi.

Berbagai comeback yang melampaui nalar adalah buktinya. Jenisnya pun beragam, mulai terjadi di satu pertandingan atau memutar keadaan dalam dua leg.

Timnas Indonesia kini mengusung semangat itu pada leg kedua final Piala AFF 2020 melawan Thailand. Pasukan Shin Tae-yong dalam posisi terjepit usai kalah 0-4 pada leg pertama, Rabu (29/12/2021).

Melihat cara bermain lawan dan besarnya defisit yang harus dikejar, kans Skuat Garuda untuk membalikkan skor sekaligus mengakhiri paceklik gelar Piala AFF nyaris nol.

Namun, masih ada harapan bagi timnas untuk membuat kejutan belajar dari sejarah.

Mukjizat di Camp Nou

Striker Manchester United, Teddy Sheringham, berebut bola dengan bek Bayern Munchen, Samuel Osei Kuffour, pada laga final Liga Champions di Stadion Camp Nou, Barcelona (26/5/1999). Manchester United menang 2-1 atas Bayern Munchen. (AFP/Eric Cabanis)
Striker Manchester United, Teddy Sheringham, berebut bola dengan bek Bayern Munchen, Samuel Osei Kuffour, pada laga final Liga Champions di Stadion Camp Nou, Barcelona (26/5/1999). Manchester United menang 2-1 atas Bayern Munchen. (AFP/Eric Cabanis)

Capaian Manchester United (MU) di final Liga Champions 1998/1999 hingga kini masih tercatat sebagai salah satu comeback terbaik sepanjang sejarah. Banyak faktor menjadikannya demikian.

Kala itu David Beckham dan kawan-kawan bermain di panggung terbesar ajang antarklub. Posisi mereka juga terjepit karena tertinggal 0-1 hingga waktu normal habis.

Yang tidak terduga kemudian terjadi. Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer mencetak gol bagi MU pada perpanjangan waktu untuk mempersembahkan gelar kedua bagi MU di ajang tersebut.

Kejar Defisit 4 Gol

Para pemain Barcelona merayakan kemenangan usai pertandingan melawan PSG pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions di stadion Camp Nou, Spanyol (9/3). Barcelona menang 6-1 (agregat 6-5). (AP Photo/Emilio Morenatti)
Para pemain Barcelona merayakan kemenangan usai pertandingan melawan PSG pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions di stadion Camp Nou, Spanyol (9/3). Barcelona menang 6-1 (agregat 6-5). (AP Photo/Emilio Morenatti)

Sementara kesuksesan Barcelona memutar skor saat melawan Paris Saint-Germain (PSG) jadi acuan dalam format dua leg. Seperti MU, El Azulgrana juga melakukannya di kompetisi paling bergengsi yakni Liga Champions tepatnya pada perdelapan final 2016/2017.

Kala itu Lionel Messi dan kawan-kawan hampir pasti tersingkir karena takluk 0-4 pada leg pertama. Sejarah kompetisi pun tidak mendukung karena belum pernah ada tim yang memutar defisit empat gol. Namun, Barcelona menunjukkan potensi mengejar dengan unggul 3-0 hingga awal babak kedua.

Meski begitu, PSG kembali tertawa karena sukses mencetak satu gol tandang. Klub Prancis itu pun makin percaya diri bisa melangkah ke babak selanjutnya.

Nyatanya Barcelona mampu mencetak tiga gol yang dibutuhkan untuk unggul agregat 6-5. Gol penentu datang pada menit kelima injury time melalui Sergi Roberto.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel