Bola Ganjil: Filosofi Cacat Los Galacticos Real Madrid

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Real Madrid memiliki status sebagai klub paling glamor di dunia. Mereka mendapatkan cap tersebut karena kegemaran mengoleksi pemain top dan mahal.

Strategi itu membuat Real Madrid dijuluki Los Galacticos atau skuat bertabur bintang.

Istilah ini populer ketika Florentino Perez mencoba jadi presiden klub. Demi merebut suara pada pemilihan, dia menjanjikan transfer besar setiap tahun. Kampanye itu berhasil dan Perez berkuasa.

Membuktikan tidak asal omong, dia lalu merekrut Luis Figo dari musuh bebuyutan Barcelona. Setelahnya Perez mendatangkan Zinedine Zidane (2001), Ronaldo (2002), David Beckham (2003), Michael Owen (2004), serta Robinho dan Sergio Ramos (keduanya 2005).

Sempat lengser karena program ini tidak melulu berbuah prestasi, Perez melanjutkan pendekatan ketika kembali berkuasa pada 2009. Tidak tanggung-tanggung, tahun itu dia merekrut Cristiano Ronaldo, Kaka, Karim Benzema, dan Xabi Alonso.

Angel Di Maria (2010), Mesut Ozil (2010), Luka Modric (2012), Gareth Bale (2013), Toni Kroos (2014), James Rodriguez (2014), Thibaut Courtois (2018), dan Eden Hazard (2019) lalu tiba meneruskan tradisi Los Galacticos Real Madrid.

Manuver Santiago Bernabeu

Presiden Real Madrid Santiago Bernabeu (Via: realmadrid.com)
Presiden Real Madrid Santiago Bernabeu (Via: realmadrid.com)

Kenyataannya, Perez bukanlah pionir dalam kebijakan Galacticos. Adalah presiden legendaris Santiago Bernabeu yang pertama kali menerapkannya.

Di bawah kepemimpinan sosok yang diabadikan jadi stadion kebanggaan klub itu, Real Madrid merekrut Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Raymond Kopa, Jose Santamaria, dan Francisco Gento. Nama-nama itu kini jadi legenda klub.

Namun, manuver Bernabeu tidak sepenuhnya sukses. Seperti Perez, ada juga pembelian yang gagal. Ironisnya, transfer itu melibatkan dua bintang Piala Dunia 1958: Didi asal Brasil dan Agne Simonsson dari Swedia.

Didi merupakan kapten Brasil. Meski turnamen ditandai kemunculan remaja berbakat bernama Pele, dia merupakan nyawa permainan Selecao dalam perjalanan menjadi juara. Sementara Simonsson merupakan kreator dan predator yang membantu Swedia mencapai final.

Benturan Bintang

Didi, Alfredo Di Stefano, dan Ferenc Puskas. (Twitter)
Didi, Alfredo Di Stefano, dan Ferenc Puskas. (Twitter)

Dibeli dari Botafogo sebagai suksesor Di Stefano, Didi yang berusia enam tahun lebih muda gagal mengeluarkan performa terbaik. Penyebabnya bisa jadi karena satu hal.

Pemain baru Real Madrid harus menyesuaikan diri dengan Di Stefano jika mau bertahan lama. Pengaruhnya sangat kuat mengingat kontribusi bagi klub serta statusnya sebagai pemain senior.

Tidak semua bisa menghadapi kondisi ini. Puskas dan Kopa pun kesulitan pada awal karier sebagai penggawa Los Blancos. Terlebih mereka merupakan pusat permainan di klub sebelumnya.

Pada akhirnya Puskas dan Kopa beradaptasi. Mereka terima jadi pendukung Di Stefano dan bersama-sama mereka bersinar.

Didi tidak tidak mau atau tidak bisa melakukannya. Setelah 19 penampilan Didi bersama tim, manajemen klub akhirnya sadar tersebut. Mereka lalu meminjamkannya ke Valencia.

Di sana Didi terbebas dari kekangan dan langsung bersinar menjadi sumber kreativitas tim. Valencia pun berusaha membelinya secara permanen.

Namun, Real Madrid hanya mau melepas ke klub Didi sebelumnya, Botafogo. Tidak masalah, Didi terus cemerlang di kampung halaman dan kembali jadi pilar saat Brasil mempertahankan gelar di Piala Dunia 1962.

Setali Tiga Uang

Agne Simonsson dan Alfredo Di Stefano. (Twitter)
Agne Simonsson dan Alfredo Di Stefano. (Twitter)

Kasus Simonsson kurang lebih sama. Karena Didi mengisi slot pemain asing, Real Madrid baru bisa mendatangkannya secara resmi pada 1960. Sembari menunggu, dia bersinar bersama Orgryte untuk memenangkan gelar pesepak bola dan atlet terbaik Swedia 1959.

Simonsson juga merasakan masalah serupa seperti Didi. Semula dia diharapkan jadi ujung tombak tim dengan Di Stefano bermain sedikit lebih ke belakang untuk mengurangi beban kakinya yang semakin menua.

Namun taktik ini tidak berhasil. Simonsson hanya membela Real Madrid tiga kali sebelum dipinjamkan ke Real Sociedad. Pada 1963, dia mengikuti jejak Didi dengan kembali ke Orgryte.

Terulang pada 2014

Pemain Real Madrid, James Rodriguez, duel udara dengan pemain Real Sociedad, Nacho Monreal, pada laga La Liga di Reale Seguros Stadium, Minggu (21/6/2020). Real Madrid menang 2-1 atas Real Sociedad. (AP Photo/Alvaro Barrientos)
Pemain Real Madrid, James Rodriguez, duel udara dengan pemain Real Sociedad, Nacho Monreal, pada laga La Liga di Reale Seguros Stadium, Minggu (21/6/2020). Real Madrid menang 2-1 atas Real Sociedad. (AP Photo/Alvaro Barrientos)

Dengan total hanya 22 penampilan, kasus Didi dan Simonsson semestinya jadi pelajaran bagi Real Madrid. Nyatanya, mereka mengulang kesalahan serupa 56 tahun berselang.

Los Blancos merekrut dua bintang dari Piala Dunia, yakni James Rodriguez dan Toni Kroos, tanpa memperhitungkan kebutuhan tim. Klub hanya bertindak memanfaatkan popularitas pemain yang bersinar di turnamen.

Hasilnya hampir sama. Kroos boleh cemerlang karena Real Madrid baru saja kehilangan Xabi Alonso. Namun, Rodriguez kesulitan maksilam dalam tim yang sudah punya Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan Isco Alarcon.

Sempat dititipkan ke Bayern Munchen, Rodriguez akhirnya dilepas gratis ke Everton musim panas lalu.

Saksikan Video Real Madrid Berikut Ini