Bola Ganjil: George Raynor Dihargai di Negara Orang, Diabaikan Negeri Sendiri

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - George Raynor meraup berbagai kesuksesan di luar negeri. Capaian tersebut bahkan sampai membuatnya gelar kebangsaan dari Raja Swedia Gustav IV.

Berbekal prestasi ini, Raynor pun bermimpi bisa meninggalkan kesan serupa di kampung halaman.

Dia kembali ke Inggris dan berharap mendapat tawaran pekerjaan dari Federasi Sepak Bola Inggris (FA) untuk menangani tim nasional. Bagaimanapun, tidak ada pria lokal sebelumnya yang sukses membawa tim lolos ke final Piala Dunia.

Namun jangankan FA, klub papan atas setempat juga tidak ada yang tertarik menggunakan jasa Raynor. Setelah hanya membutuhkan satu kemenangan untuk merebut gelar internasional paling prestisius, dia harus puas menangani Skegness Town, klub semiprofesional yang berkompetisi di Liga Midland.

Ini adalah cerita kariernya:

Juara Olimpiade

BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Raynor dipercaya menangani Timnas Swedia setelah sebelumnya melatih tentara Inggris di Irak. Untuk menerapkan filosofinya, dia membutuhkan waktu dan komitmen karena sepak bola Swedia masih berstatus amatir. Pemain yang masuk timnas pun jarang berlatih bersama.

Mengatasi masalah ini, Raynor pergi ke setiap kota tempat klub Swedia berbasis. Dia lalu menghabiskan banyak waktu di tiap lokasi untuk melatih anak asuhnya.

Pendekatan ini berbuah baik. Swedia menghajar Swiss 7-2 pada laga debut Raynor. The Yellow Vikings lalu tidak terkalahkan dalam 10 pertandingan awal sang nakhoda, sebelum kalah beruntun dari Inggris dan Belanda.

Meski begitu, Swedia mendapat momentum positif jelang Olimpiade 1948. Berturut-turut mereka menaklukkan Austria, Korea Selatan, Denmark, dan Yugoslavia untuk menduduki podium tertinggi.

Namun, Kemenangan Swedia menarik perhatian peminat, terutama asal Italia. Meski Raynor coba memblok, daya tarik tampil di luar negeri terlalu besar bagi pemain.

Gunnar Nordahl pergi ke AC Milan, disusul Gunnar Gren dan Nils Liedholm. Mereka membentuk trio maut Gre-No-Li dan membawa I Rossoneri mendominasi Serie A. Saudara Nordahl, Knut (AS Roma) dan Bertil (Atalanta), ikut menjajal nasib keluar negeri.

Akhirnya semakin banyak talenta dari Swedia eksodus. Kondisi ini menyulitkan Raynor karena kebijakan otoritas setempat. Swedia hanya mau menggunakan pemain amatir untuk membela timnas. Dengan kepergian bintang, Raynor terpaksa mencari talenta baru.

Piala Dunia 1958

ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Berkat bantuan asosiasi lokal, Raynor mampu mengatasi masalah itu dengan baik. Dia membawa Swedia menduduki peringkat tiga Piala Dunia 1950 menggunakan skuat baru.

Dua tahun berselang, Raynor kembali membentuk tim dalam upaya mempertahankan medali Olimpiade. Swedia mampu melangkah hingga semifinal, tapi tidak berdaya di hadapan Hungaria yang memiliki Nandor Hidegkuti, Sandor Kocsis, dan Ferenc Puskas.

Meski begitu, mereka bangkit di laga perebutan tempat ketiga melawan Jerman Barat untuk merebut medali perunggu.

Namun Swedia gagal lolos ke Piala Dunia 1954. Raynor mengikuti jejak pemain andalannya dan pergi ke Italia. Dia melatih Juventus dan Lazio sebelum pulang menangani Coventry City. Sampai Swedia kembali memanggil. Raynor diidentifikasikan sebagai sosol ideal yang bisa membantu mereka tampil maksimal saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1958.

Tumbang di Hadapan Pele

Ilustrasi sepak bola (Abdillah/Liputan6.com)
Ilustrasi sepak bola (Abdillah/Liputan6.com)

Raynor menyusun rencana demi membangun tim idaman. Dia kembali berkeliling Swedia untuk mencari dan melatih pemain. Raynor juga sukses meyakinkan federasi agar mengizinkan pemain profesional membela timnas.

Trio Nordahl bersaudara pada titik ini sudah pensiun. Namun Gren, Liedholm, Lennart Skoglund, dan Kurt Hamrin akhirnya masuk skuat.

Usai melewati Wales, Meksiko, dan Hungaria di fase grup, Swedia menaklukkan Uni Soviet pada perempat final. Mereka kemudian menghadapi juara bertahan Jerman Barat. Sempat tertinggal, Swedia sukses membalikkan keadaan dengan mencetak tiga gol.

Meladeni Brasil di final, Raynor percaya Swedia bisa menang jika unggul terlebih dahulu. Mereka mendapatkannya berkat gol Liedholm di menit keempat.

Namun, Raynor tidak memperhitungkan remaja bertalenta bernama Pele. Mereka akhirnya tumbang 2-5. Meski begitu, status runner-up Piala Dunia 1958 masih menjadi capaian terbaik Swedia di turnamen besar hingga saat ini.

Tidak Ada Penjelasan

ilustrasi Sepak Bola (Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi Sepak Bola (Liputan6.com/Abdillah)

Sayang capaian itu tidak cukup bagi Inggris untuk memberinya pekerjaan berarti. Raynor terasing di Skegness Town. Di sisi lain, FA tidak pernah memberi alasan mengapa mengabaikan Raynor.

Meski begitu, dia sempat membalas dendam kepada pemangku jabatan. Kembali ke Swedia bekerja paruh waktu, Raynor membantu The Yellow Vikings menaklukkan Inggris di hadapan pendukung sendiri pada Oktober 1959.

Saksikan Video Berikut Ini