Bola Ganjil: Independiente, Real Madrid dari Argentina

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Boca Juniors dan River Plate muncul sebagai jawaban ketika pertanyaan klub sepak bola di Argentina muncul. Rivalitas keduanya bahkan melegenda.

Duel mereka yang bertajuk Superclasico bahkan mengalahkan sengitnya El Clasico Real Madrid vs Barcelona, Derby della Madonnina AC Milan vs Inter Milan, serta North West Derby Liverpool vs Manchester United.

Kenyataannya, Boca Juniors dan River Plate bukanlah klub terbaik di Negeri Tango. Bicara titel internasional, mereka hanya bisa iri melihat capaian Independiente yang sudah tujuh kali memenangkan Copa Libertadores, kompetisi setara Liga Champions di Amerika Selatan.

Dari tujuh gelar tersebut, enam di antaranya direbut pada periode kesuksesan pertengahan 1960-an hingga awal 1970-an. Masa keemasan yang dicapai berkat kombinasi taktik revolusioner, pemain berkualitas, serta pelatih piawai.

Ini adalah kisah mereka.

Membangun Fondasi

Independiente mengalahkan Pele dan Santos untuk juara Copa Libertadores 1964. (Twitter)
Independiente mengalahkan Pele dan Santos untuk juara Copa Libertadores 1964. (Twitter)

Periode 1950-an adalah masa ketidakpastian dan kering bagi Los Diablos Rojo, satu-satunya dekade mereka gagal merebut satu gelar pun. Meski begitu, landasan untuk masa depan mulai dibangun.

Mereka menjajal diri melawan kekuatan asing dengan pergi ke Eropa. Di sana Independiente menjajal Real Madrid dan Atletico Madrid, plus duo Lisbon Sporting CP dan Benfica. Pengalaman ini mendongkrat moral tim.

Pada 1960, Independiente mengalahkan River Plate pada persaingan sengit untuk jadi juara Argentina seleta menanti 12 tahun. Namun, mereka langsung disisihkan wakil Brasil Palmeiras di Copa Libertadores musim berikutnya. Perkembangan jelas dibutuhkan.

Perubahan mulai dilakukan tahun 1963. Pelatih Armando Renganeschi diganti Manuel Giudice. Klub juga mendatangkan Osvaldo Mura dan Mario Rodriguez yang memberi dimensi baru dalam permainan tim.

Hasilnya terlihat di Copa Libertadores edisi berikutnya. Usai mudah menyisihkan Millonarios (Kolombia) dan Alianza Lima (Peru) di fase grup, mereka dipasangkan melawan Santos (Brasil).

Lawan jelas diunggulkan karena memiliki Pele. Namun, Independiente nyatanya sukses menang 5-3, termasuk 3-2 di markas lawan.

Mereka lalu melanjutkan momentum dengan menaklukkan Nacional (Uruguay) 1-0 di final. Independiente pun jadi juara Copa Libertadores pertama asal Argentina.

Regenerasi Skuat

Independiente juara Copa Libertadores 1972. (Twitter)
Independiente juara Copa Libertadores 1972. (Twitter)

Independiente sukses mempertahankan gelar semusim kemudian. Mereka melakukannya meski harus melakoni tiga partai di semifinal (vs Boca Juniors) dan final (vs Penarol; Uruguay). Laga di tempat netral dibutuhkan karena kompetisi belum mengenal adu penalti.

Namun, Los Diablos Rojo gagal mencetak hattrick. Pada edisi 1966, mereka harus mengakui keunggulan River Plate di semifinal.

Kegagalan ini kembali memaksa manajemen bertindak. Proses regenerasi skuat pun kembali berlangsung.

Sempat bersinar bersama Osvaldo Brandao asal Brasil, Independiente mencapai potensi maksimal di tangan Pedro Dellacha. Mengandalkan strategi serangan sisi lapangan dengan peran aktif bek sayap, tim kembali mengikuti Copa Libertadores 1972 setelah menguasai liga domestik musim sebelumnya.

Taktik tersebut membantu mereka melewati persaingan kompetisi yang kini menggunakan format dua fase grup. Independiente lalu menaklukkan wakil Peru Universitario 2-1 di dua laga.

Capaian ini meningkatkan ambisi klub. Mereka tidak lagi puas hanya berjaya di pentas kontinental. Target besar pun dicanangkan.

Juara Dunia

Independiente juara Piala Interkontinental 1973 usai menaklukkan Juventus. (Twitter)
Independiente juara Piala Interkontinental 1973 usai menaklukkan Juventus. (Twitter)

Independiente membidik titel Copa Interamericana, ajang yang mempertemukan juara Amerika Utara melawan Amerika Selatan dan digelar pada 1969-1983. Gelar pun direbut usai menaklukkan Olimpia dari Honduras.

Sayang, penghargaan Piala Intercontinental (cikal bakal Piala Dunia Antarklub) masih belum didapat. Seperti ketika dikalahkan Inter Milan pada 1964 dan 1965, kali ini Independiente harus mengakui keunggulan Ajax Amsterdam.

Penantian panjang Independiente akhirnya terbayar setahun berselang. Mereka berkesempatan tampil setelah menjuarai Copa Libertadores dengan menaklukkan Colo-Colo (Chile) di final.

Independiente semestinya meladeni juara Eropa Ajax. Namun, tim asal Belanda itu menolak berpartisipasi karena alasan finansial. Sebagai penantang hadir runner-up Piala Champions Juventus.

Kini ditangani Roberto Ferreiro, Independiente menjadi juara dunia berkat kemenangan 1-0 pada laga tunggal di Roma. Menjadi bintang dan pahlawan kemenangan Ricardo Bochini, sosok yang kemudian jadi salah satu pemain terbaik sepanjang masa di Liga Argentina.

Prestasi Istimewa Sulit Diulang

Independiente juara Copa Libertadores 1975. (Twitter)
Independiente juara Copa Libertadores 1975. (Twitter)

Independiente lalu melanjutkan dominasi dengan memenangkan Copa Libertadores 1974 dan 1975. Mereka menaklukkan Sao Paulo (Brasil, 1974) dan Union Espanola (Chile, 1975) untuk membawa pulang titel.

Sayang dua capaian itu tidak berbuah Piala Intercontinental. Setidaknya Independiente sukses memenangkan Copa Interamericana.

Tahun 1976, harapan Independiente menyamai torehan Real Madrid dengan menjuarai kompetisi kontinental lima tahun secara beruntun kandas. Mereka harus mengakui keunggulan River Plate di fase grup kedua.

Meski begitu, torehan quattrick Independiente tetap menjadi rekor hingga sekarang. Setelah itu mereka tidak mampu menyamai kinerja periode emas. Independiente hanya sekali memenangkan Copa Libertadores dan Piala Intercontinental 1984.

Wajar, prestasi sebelumnya begitu istimewa. Tidak heran jika Los Diablos Rojo tidak mampu mengulangnya.

Saksikan Video Independiente Berikut Ini