Bola Ganjil: Jika Karl Marx Menciptakan Kompetisi Sepak Bola

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Operator sepak bola menciptakan berbagai kompetisi dengan beragam tujuan pula. Maksud utama jelas untuk mencari siapa yang terbaik.

Namun, ada pula turnamen yang berniat menghibur penonton. Salah satunya adalah International Champions Cup.

Sembari meraup keuntungan dan memenuhi kebutuhan klub melewati pramusim, pelaksana selalu mempertemukan sesama tim besar di setiap tahunnya.

Ada pula Watney Cup, kompetisi dari Inggris yang hanya berusia empat tahun. Ajang tersebut ingin menampilkan laga spektakuler dengan mendorong peserta menciptakan gol sebanyak mungkin.

Lalu ada lagi Progress Cup, turnamen sepak bola di Uni Soviet yang berlangsung selama dua dekade.

Melawan Diri Sendiri

ilustrasi Sepak Bola (Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi Sepak Bola (Liputan6.com/Abdillah)

Dari namanya, Progress Cup semestinya menggunakan sistem gugur layaknya turnamen domestik lainnya. Tapi kenyataan tidak demikian.

Progress Cup diikuti seluruh klub Uni Soviet. Peserta tidak bertanding melawan tim lain melainkan diri sendiri.

Pasalnya, titel pemenang diberikan kepada tim yang menunjukkan peningkatan terbesar dibanding kinerja musim sebelumnya berdasar hitungan matematika.

Inisiasi Media Kiev

ilustrasi
ilustrasi

Progress Cup merupakan penghargaan yang diberikan Rabochaia Gazeta, koran berbasis Kiev untuk kaum pekerja. Dengan formatnya yang unik, kompetisi ini memberikan kesempatan sama bagi setiap klub untuk menjadi juara.

Krylia Sovetov Kuybyshev adalah salah satu yang memanfaatkannya. Sulit bersaing dengan nama-nama besar dan kerap terdegradasi, klub berbasis Samara tersebut bisa berbangga dengan memenangkan Progress Cup 1976.

Kesempatan Merata

Ilustrasi sepak bola (Abdillah/Liputan6.com)
Ilustrasi sepak bola (Abdillah/Liputan6.com)

Format unik Progress Cup juga menciptakan tren lain sepanjang penyelenggaraannya. Daftar pemenang terbilang merata dan tidak ada tim yang mendominasi, dengan capaian tersukses adalah merebut tiga titel. Mereka adalah Dynamo Kiev (1971, 1985, 1988), Dynamo Moscow (1973, 1981, 1986), dan Chernomorets Odessa (1974, 1989, 1991).

Hadir 12 juara Progress Cup, jumlah yang banyak mengingat kompetisi hanya berlangsung 21 kali. Statistik tersebut menunjukkan betapa semangat Progress Cup mirip dengan paham sosialisme hasil pemikiran filsuf Jerman Karl Marx, yang kemudian diadopsi untuk gerakan revolusi yang melahirkan Uni Soviet.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini