Bola Ganjil: Olimpiade Tokyo 2020 Ide Buruk? St Louis 1904 Lebih Parah

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menggelar pesta di tengah pandemi bukanlah ide bagus. Apalagi jika ajang tersebut melibatkan belasan ribu orang dari 205 kontingen.

Gelaran Olimpiade Tokyo 2020 memunculkan kekhawatiran besar di tengah kondisi saat ini. Dunia masih bergulat dengan Covid-19 yang justru terus mengganas akibat kehadiran varian Delta.

Namun, setelah ditunda setahun, Olimpiade tetap bergulir secara resmi pada 23 Juli hingga 8 Agustus mendatang. Atlet-atlet dari berbagai penjuru muka bumi sudah tiba di Negeri Matahari Terbit dalam sebulan terakhir.

Panitia Penyelenggara berjanji akan melakukan usaha terbaik demi mencegah penyebaran virus corona. Salah satunya dengan melarang suporter dari luar negeri, serta mengosongkan kursi penonton di mayoritas venue.

Di tengah berbagai pertanyaan terhadap penyelengaraan Tokyo 2020, masih ada pesta olahraga yang lebih bermasalah. Ajang itu adalah Olimpiade 1904 di St Louis. Ini adalah kisahnya.

Pertama di Luar Eropa

Logo Olimpiade. (AFP/Raphael Alves)
Logo Olimpiade. (AFP/Raphael Alves)

Tahun 1904 adalah Olimpiade pertama yang digelar di luar Eropa. Keputusan menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah jelas merupakan eksperimen besar.

Tidak hanya dipisahkan Samudera Atlantik, kota penyelenggara St Louis juga terletak di barat tengah AS. Butuh waktu panjang dan biaya besar untuk mencapainya.

Terbukti, hanya 12 negara yang berpartisipasi. Di sejumlah cabor, seluruh atlet yang berkompetisi bahkan berasal dari Negeri Paman Sam.

Dalam kondisi ini, tidak heran jika tuan rumah merebut 238 medali, unggul 223 dari Jerman yang menempati peringkat dua.

Jumlah penonton juga sedikit karena penyelenggaraan Olimpiade bertepatan dengan Pameran Dunia di kota sama. Masyarakat lebih tertarik datang ke acara tersebut.

Tukang Judi dari Kuba

Ilustrasi logo Olimpiade. (Photo by Kyle Dias on Unsplash)
Ilustrasi logo Olimpiade. (Photo by Kyle Dias on Unsplash)

Berbagai kisah unik juga hadir di balik gelaran ini. Pesenam AS berdarah Jerman merebut enam medali meski kaki kirinya diamputasi. Menggunakan kaki palsu, dia meraih emas di kuda lompat walau tidak menggunakan papan lompat.

Seorang juara tinju menggunakan nama palsu. Sementara cabang olahraga renang berlangsung di danau asimetris.

Namun, cerita paling menarik barangkali hadir di nomor maraton. Cabang ini melibatkan banyak atlet amatir.

Fred Lorz adalah tukang bangunan dari New York. Dia berkompetisi melawan Felix Carvajal, warga Kuba yang berprofesi sebagai pengantar surat. Hampir melewatkan Olimpiade karena kehilangan uang perjalanan dari sponsor karena kalah judi, Carvajal akhirnya tiba di St Louis dengan menumpang.

Ada juga dua dari Suku Tswana mewakili Afrika Selatan. Mereka berkompetisi tanpa menggunakan alas kaki.

Pendarahan Internal

Ilustrasi Olimpiade Rio (Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)
Ilustrasi Olimpiade Rio (Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)

Lomba berjalan sulit. Peserta bersaing dalam jalan berdebu, cuaca panas, dan melewati trek menantang, melewati kemacetan serta kerap berpapasan dengan warga yang membawa anjing berjalan.

Panitia juga menerapkan peraturan 'kejam' dan hanya memberi kontestan dua waktu untuk minum. Dalam kondisi ini, tidak heran jika pelari bertumbangan.

William Garcia jadi korban pertama. Debu menutupi kerongkongannya dan membuat dirinya mengalami pendarahan internal. Menurut dokter yang memeriksa, Garcia bakal tewas jika terus berkompetisi.

Salah satu pelari dari Afrika Selatan melenceng beberapa kilometer karena dikejar anjing liar. Sementara Carvajal coba mengatasi dehidrasi dan mengonsumsi buah sembari berlari. Namun, akibat terlalu banyak memakan apel, dia berhenti karena menderita keram perut.

Lebih Baik Dilupakan

Atlet atletik asal India memakai kalung logo olimpiade saat latihan di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Sabtu (10/2/2018). Latihan ini merupakan persiapan jelang Invitation Tournament Asian Games 2018. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Atlet atletik asal India memakai kalung logo olimpiade saat latihan di Stadion Madya Senayan, Jakarta, Sabtu (10/2/2018). Latihan ini merupakan persiapan jelang Invitation Tournament Asian Games 2018. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Lorz menemukan ide brilian mengatasi kondisi walau melanggar sportivitas. Dia menumpang mobil dan sempat melambai saat melewati rival. Mendapat bantuan tersebut, Lorz akhirnya melewati garis finis pertama.

Meski begitu, kecurangannya diketahui sesaat sebelum penyerahan medali. Lorz didiskualifikasi dan lomba dilanjutkan.

Thomas Hicks, yang memimpin di awal lomba, begitu dehidrasi sampai harus dipapah dua orang di sisa kompetisi. Begitu dehidrasi, dia meminum air suling, campuran telur putih dan pestisida, serta alkohol di berbagai titik rute maraton supaya kuat melanjutkan.

Hicks akhirnya mendapat medali emas. Dia baru kuat berdiri sendiri setelah diperiksa empat dokter berbeda sejam setelah naik podium.

Gelaran maraton jadi pemicu akhir sehingga sejarawan William O Johnson Jr menyebut St Louis 1904 sebagai "Olimpiade yang lebih baik dilupakan".

Saksikan Video Olimpiade Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel