Bola Ganjil: Otak di Balik Sukses FC Nantes, Lyon dan PSG Tidak Mampu Menandingi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Jean-Claude Suaudeau bukanlah nama tenar di sepak bola. Namun, sosok berkebangsaan Prancis ini merupakan salah satu nama dengan catatan unik di sepak bola.

Suaudeau sukses mempersembahkan gelar liga bagi FC Nantes sebagai pemain dan pelatih. Catatan tersebut terasa lebih istimewa mempertimbangkan reputasi Les Canaris.

Sebelum Suaudeau meraih titel perdana pada 1964/1965, FC Nantes bukanlah nama besar di sepak bola Prancis. Ketika itu baru berusia 22 tahun, FC Nantes mayoritas berkompetisi di divisi rendah. Mereka baru tampil di kasta tertinggi pada 1963/1964.

Sebagai pelatih, Suaudeau kemudian membawa FC Nantes menembus semifinal Liga Champions. Dia juga membantu klub menorehkan rekor hanya sekali kalah dalam satu musim kompetisi pada 1994/1995.

Tidak ada tim yang mampu mengalahkan atau bahkan menyamai torehan tersebut, termasuk Olympique Lyon ketika jadi juara tujuh tahun beruntun atau Paris Saint-Germain sesudah didukung pemilik kaya asal Qatar.

Torehan Rekor

bola ganjil (Liputan6.com/Abdillah)
bola ganjil (Liputan6.com/Abdillah)

Suaudeau menjalankan peran sebagai gelandang bertahan. Posisi tersebut membantunya memiliki pengertian mendalam mengenai permainan.

Tercatat dia membela FC Nantes di 275 pertandingan dan meraih gelar Ligue 1 pada 1964/1965 dan 1965/1966.

Terlepas capaian itu, harus diakui prestasi terbesar Suaudeau hadir saat dirinya memimpin dari sisi lapangan. Bekerja dalam dua periode, dia meraih titel Ligue 1 pada setiap durasi.

Pada 1994/1995, FC Nantes hanya sekali menderita kekalahan (dari RC Strasbourg) untuk berkuasa di puncak. Dalam torehan ini, mereka membukukan sejarah baru dengan tidak terkalahkan terpanjang sebanyak 32 laga, melampaui rekor sebelumnya atas nama PSG (27).

Eropa dan Bintang Muda

BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Suaudeau juga membantu Les Canaris bicara banyak di pentas Eropa. FC Nantes melangkah hingga perempat final Piala UEFA 1994/1995 (disingkirkan Bayer Leverkusen) dan semifinal Liga Champions 1995/1996 (disisihkan Juventus).

Suaudeau turut meluncurkan karier talenta muda yang kemudian mengangkat harkat negara. Daftarnya termasuk Didier Deschamps, Marcel Desailly, Christian Karembeu, Claude Makelele, Patrice Loko, Nicolas Ouedec, Reynald Pedros, Jean-Michel Ferri, dan Mickael Landreau.

Inspirasi Taktik

ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Inspirasi taktik Suaudeau datang dari Ajax Amsterdam yang cemerlang bersama Rinus Michels dan Johan Cruyff. Dia juga sejalan dengan strategi Jose Arribas, sosok yang menanganinya ketika masih bermain.

Suaudeau menekankan pentingnya lini tengah. Atas pertimbangan ini dia kerap menumpuk pemain di sektor tersebut agar timnya menguasai bola. Sosok kelahiran Cholet tersebut meminta anak asuhnya menekan lawan secara kolektif dan selalu berusaha menyerang.

Lewat pendekatan tersebut, Suaudeau mampu mengoptimalkan kemampuan anak asuhnya. Dia meninggalkan FC Nantes di akhir musim 1996/1997 karena perbedaan pendapat dengan manajemen. Suaudeau digantikan Raynald Denoueix.

Saksikan Video Berikut Ini