Bola Ganjil: Pemberontakan di Argentina, Alfredo Di Stefano, dan Millonarios FC

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemberontakan meledak di sepak bola Argentina pada 1948. Asosiasi pemain menolak merumput sebagai tanda protes akan keadaan.

Beberapa tuntutan muncul, mulai membenahi kontrak, tidak adanya keterlambatan pembayaran gaji, perbaikan upah minimal, dan pengakuan resmi terhadap organisasi. Mereka berharap memperbaiki kondisi ekonomi pemain sepak bola Argentina pada umumnya.

Protes berlangsung berbulan-bulan. Pemegang kuasa pun mengambil dua langkah menghadapi kondisi ini.

Dengan mayoritas pemain menolak tampil, pemilik klub menginstruksikan siswa akademi tampil. Tujuannya agar kompetisi selesai.

Sementara Menteri Tenaga Kerja Argentina justru menerapkan kebijakan lebih drastis. Pemerintah menetapkan batas bayaran pemain sepak bola sebesar 1.500 peso.

Taktik tersebut mendorong eksodusnya pemain terbaik Argentina. Mayoritas menyeberang ke Kolombia.

Tercatat ada 57 nama yang pergi, termasuk Alfredo Di Stefano, Adolfo Pedernera, Nestor Rossi, Rene Pontoni, Julio Cozzi, dan Oscar Sastre. Di Stefano jadi salah satu nama yang vokal memperjuangkan nasib koleganya.

Namanya saat itu sudah disegani karena ketajamannya bersama River Plate. Dia tercatat mencetak 55 gol dari 76 penampilan bagi klub tersebut.

Aksi Millonarios FC

bola ganjil (Liputan6.com/Abdillah)
bola ganjil (Liputan6.com/Abdillah)

Millonarios FC merupakan salah satu klub yang menikmati keadaan ini. Semula mereka hanyalah perkumpulan lokal dengan nama Municipal Sports Club.

Klub lalu dijuluki Millionaires menyusul kebijakan rekrutmen pemain mahal dari luar negeri. Panggilan itu kemudian jadi bagian penting identitas klub yang mengubah nama menjadi seperti dikenal sekarang.

Millonarios FC sukses mendatangkan trio Di Stefano, Pedernera, dan Rossi dari River Plate, plus Cozzi asal Platense.

Kehadiran mereka membuat klub disegani dan mendominasi sepak bola Kolombia. Millonarios FC menjuarai liga empat kali dalam durasi 1949-1953.

Tidak hanya di pentas domestik, Millonarios FC juga cemerlang pada ajang internasional. Kesempatan bersinar datang ketika pengusaha dari Venezuela menggelar kompetisi yang melibatkan klub Eropa dan Amerika Selatan.

Usai berpartisipasi pada 1952, Millonarios FC memenangkan edisi 1953 setelah mengungguli River Plate, Rapid Wien, dan Espanyol.

Sanksi FIFA

ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Sayang gangguan dari luar datang. FIFA menjatuhkan sanksi karena aktivitas klub mendatangkan pemain Argentina tanpa surat resmi pada 1953, merujuk dampak pemberontakan di Negeri Tango beberapa tahun sebelumnya.

Di sini Millonarios FC merasakan dampak negatif kebijakan yang diterapkan. Dengan merekrut pemain mahal menggunakan uang, besar kemungkinan mereka pergi karena alasan sama. Loyalitas mereka tertuju ke faktor ekonomi, bukan hubungan emosional ke klub.

Para pemain kunci pun hengkang. Yang paling mentereng jelas melibatkan Di Stefano. Dia melanjutkan karier ke Real Madrid dan menjadi salah satu pemain terbaik sepanjang masa.

Kinerja Selanjutnya

BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Meski dijerat sanksi FIFA dan ditinggal pemain bintang, Millonarios FC tetap mampu berprestasi. Mereka jadi juara Kolombia lima kali hingga pertengahan 1960-an.

El Azul kemudian didera kesulitan finansial pada awal 2010-an sehingga dinyatakan bangkrut. Namun, konsorsium suporter turun tangan dan menyelamatkan klub.

Kini Millonarios FC mulai berusaha mengulang kembali kebesaran.

Saksikan Video Berikut Ini