Bola Ganjil: Rajin Cetak Gol Berbuah Kartu Bebas Penjara dari Eksekusi Saddam Hussein

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Seperti biasa sehabis pertandingan, Sahib Abbas pulang ke Karbala menggunakan bus. Namun, pada laga keempatnya bersama tim divisi teratas Salahaddin, sang saudara Fadhil tidak menjemput di terminal.

Pemuda yang kehilangan kakinya akibat Perang Teluk, Fadhil biasa mengajak Sahib mengobrol tentang hasil laga dalam perjalanan kaki menuju rumah. "Mereka menjemputnya sepekan lalu," jelas sang ibu begitu Sahib tiba di rumah. Mereka yang dimaksud adalah petugas keamanan.

Peristiwa ini terjadi beberapa bulan setelah Saddam Hussein memerintahkan militer menginvasi Kuwait. Irak sempat mundur akibat tekanan dari koalisi yang dipimpin Amerika Serikat.

Tidak lama berselang, masyarakat setempat bergerak untuk memaksa Saddam mundur. Sahib dan Fadhil menuruti pesan itu bersama sekelompok teman. Mereka menyerang lokasi pemeriksaan yang dikuasai tentara.

Namun, Saddam mendeklarasikan kuasa penuh dan Sahib harus kabur untuk menyelamatkan diri.

Kembali ke Sepak Bola

BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Dalam persembunyian, salah satu mantan pelatih menyarankan Sahib kembali ke sepak bola. Dia memberi tahu Salahaddin, klub berbasis Tikrit, kota kelahiran Saddam, mencari striker baru.

Setelah menjalani seleksi, Sahib meyakinkan klub untuk memberinya kontrak. Dia didaftarkan ke otoritas dan mencetak dua gol pada laga debut.

Sahib memberi tahu sang ibu akan mencari Fadhil ke direktorat keamanan setempat. Sebagai pemain Salahaddin, klub yang didukung rezim, dia merasa aman.

Untuk berjaga-jaga, presiden Salahaddin, Mohammed Al-Watani, juga memberinya nomor yang bisa dihubungi jika Sahib terkena kendala.

Sahib menghubungi kontak itu dan keduanya bertemu. Dia ternyata petinggi keamanan setempat. Alih-alih membebaskan saudara, Sahib justru ditangkap setelah menyebutkan siapa dirinya.

Ternyata Sahib memang dicari karena pernah melawan negara. Dia ditempatkan dalam sel bersama empat orang teman seperjuangan dulu. Mereka bercerita kerap disiksa aparat yang bertanya identitas dan keberadaannya. Petugas juga sempat mengancam bakal menyetrum Sahib jika berbohong ketika diinteogasi.

Intervensi Klub

ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi BOLA GANJIL (Liputan6.com/Abdillah)

Beruntung Sahib memiliki rencana cadangan. Dia memberitahu sang ibu agar mengubungi presiden atau pelatih Salahaddin jika tidak pulang dalam waktu tertentu.

Manuver tersebut terbukti berguna. Pemain Salahaddin mogok bermain jika Sahib tidak dalam tim. Al-Watani dan pelatih Salahaddin Abdelilah Abdul-Hamed pun turun tangan dan menjemputnya ke penjara.

Sahib dilepaskan keesokan harinya. Hukuman mati yang membayanginya pun dicabut. Namun Fadhil dan keempat temannya tidak bisa diselamatkan. Mereka dieksekusi oleh negara karena partisipasi dalam pemberontakan 1991.

Pemain Tersubur

ilustrasi Sepak Bola (Liputan6.com/Abdillah)
ilustrasi Sepak Bola (Liputan6.com/Abdillah)

Sahib menggunakan tragedi ini dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia menjalani dua musim impresif bersama Salahaddin untuk menjadi top skor.

Performa tersebut berbuah transfer ke klub top Al-Zawraa. Di sana Sahib menjadi double winners domestik secara beruntun.

Meski begitu, target di kepala Sahib tetap ada. Dia tidak boleh membela tim nasional atau mengadu nasib ke luar negeri.

Semua berubah saat masyarakat bergerak. Mereka menekan pelatih Ammo Baba untuk memanggil sang striker pada kualifikasi Piala Asia 1996. Sahib membayar kepercayaan dengan mencetak gol pada debut. Dia tetap jadi bagian utama timnas hingga kompetisi utama di Uni Emirat Arab.

Sahib kemudian menjadi pemain tersubur sepanjang masa Liga Irak dengan 177 gol. Dia menorehkan catatan itu dalam karier berdurasi 1991 hingga 2012.

Saksikan Video Berikut Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel