Bola Ganjil: Taktik Kamikaze Antonio Rattin

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kartu merah pada duel panas melawan tuan rumah Inggris di perempat final Piala Dunia 1966 membuat Antonio Ubaldo Rattin jadi wajah sepak bola kotor Argentina.

Perlakuan yang didapatnya itu tidak sepenuhnya adil. Rattin merupakan pemain berkualitas yang mengisi posisi gelandang bertahan dalam tim.

Tidak kenal kompromi, dia mematahkan serangan lawan sekaligus mengawali serangan tim, baik untuk Timnas Argentina dan Boca Juniors.

Lagipula Rattin diusir wasit bukan karena mengasari lawan, melainkan karena protes terus menerus kepada wasit yang tidak mengerti apa yang dikatakannya. Insiden ini merupakan refleksi dari betapa berbedanya budaya sepak bola Eropa dan Amerika Selatan terkait perilaku pemain.

Meski bertalenta dan sial pada laga di Wembley, Rattin tetap bukan sosok suci. Dia tidak segan menghalalkan berbagai cara untuk meraih kemenangan.

Hadapi Santos

Rudolf Kreitlein mengusir Antonio Rattin (kanan). (Twitter)
Rudolf Kreitlein mengusir Antonio Rattin (kanan). (Twitter)

Rattin menunjukkannya pada final Piala Libertadores 1963. Sebagai kapten tim, dia ingin membawa Boca Juniors mengalahkan klub Brasil Santos.

Boca Juniors saat itu memiliki tim kuat. Tumpuan mereka adalah duet striker Jose Sanfilippo dan Paulo Valentim.

Masalahnya Santos punya skuat bertabur bintang yang mencakup Pele, Lima, Coutinho, Zito, Gilmar, Pepe, dan Mengalvio. Santos juga berstatus juara bertahan serta penguasa dunia usai mengalahkan wakil Eropa, SL Benfica, pada perebutan Piala Interkontinental (kemudian bernama Piala Toyota dan kini menjadi Piala Dunia Antarklub).

Reputasi mereka pada waktu itu sangat kuat dan bahkan melampaui Real Madrid sebagai simbol tim glamor berteknik tinggi.

Taktik Nyeleneh

Antonio Rattin. (Twitter)
Antonio Rattin. (Twitter)

Pelatih Boca Juniors Aristobulo Deambrossi dan Rattin sadar Santos lebih diunggulkan. Namun, keduanya memiliki pendekatan kontras dalam penerapan strategi bermain.

Deambrossi ingin tampil terbuka dan meladeni lawan. Caranya dengan menurunkan dua striker sekaligus. Sedangkan Rattin punya pendekatan lebih sinis dan berbau nyeleneh.

Dalam wawancara kepada El Grafico, dia menjelaskan strategi pilihannya yang bertujuan untuk kepentingan tim tanpa mempertimbangkan hasrat pribadi, serta tidak tahu malu.

"Saya menjelaskannya kepada pelatih tapi dia langsung menolak tanpa berpikir dua kali. Saya berencana memprovokasi Pele sejak awal laga sehingga kami berdua kemudian mendapat kartu merah," ungkap Rattin.

"Boca Juniors akan kehilangan saya. Namun Santos juga tidak bisa mengandalkan Pele dan permainan mereka pasti berantakan," sambungnya.

Hasil Laga

Pada akhirnya Boca Juniors tidak berdaya. Strategi Deambrossi tidak sepenuhnya salah karena seluruh gol Boca datang dari Sanfilippo.

Namun, sesuai prediksi Rattin, Pele memainkan peran besar dalam final format home and away. Santos membuat lima gol, salah satunya atas nama sang legenda, untuk merebut gelar kedua sepanjang sejarah.

Antonio Rattin dan Pele usai berduel Piala Libertadores. (Twitter)
Antonio Rattin dan Pele usai berduel Piala Libertadores. (Twitter)

Kita tidak akan tahu apakah nasib Boca Juniors akan berbeda jika proposal Rattin dipenuhi Deambrossi.

Yang jelas, taktik kamikaze Rattin, ketika seorang pemain mengorbankan diri untuk menyingkirkan lawan yang lebih berpengaruh, layak dikisahkan kembali. Bahkan tidak mungkin strategi ini kemudian diterapkan dalam sepak bola modern.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini