Bola Ganjil: Tim Impian Almarhum 2020

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tahun 2020 meninggalkan luka mendalam di dunia sepak bola. Begitu banyak legenda lapangan hijau dipanggil Yang Kuasa.

Menandai pergantian tahun, mari kita membayangkan kehebatan tim yang berisi 11 almarhum.

Tim ini berisi empat warga negara: Inggris, Belanda, Argentina, dan Italia. Sebanyak empat di antaranya merupakan juara Piala Dunia, serta enam nama yang setidaknya pernah sekali memenangkan Piala Champions atau Liga Champions.

Para starter dipilih berdasar pertimbangan keseimbangan permainan tim, bukan sekedar memasukkan nama dengan naluri serang sebanyak mungkin.

Berikut tim para almarhum yang meninggal tahun 2020:

Belakang

Jack Charlton. (AFP/Paul Ellis)
Jack Charlton. (AFP/Paul Ellis)

Kiper: Ray Clemence (Inggris), 5 Agustus 1948–15 November 2020

Penjaga gawang berbakat tanpa kompromi yang jadi andalan Liverpool. Dia memenangkan tiga gelar Piala Champions plus lima titel Liga Inggris.

Clemence pindah ke Tottenham pada 1981 dan kariernya berlanjut ke sana. Bakal lebih sering bermain di pentas internasional jika bukan karena Peter Shilton.

Bek Kanan: Wim Suurbier (Belanda), 16 Januari 1945–12 Juli 2020

Cepat, kuat, pantang menyerah dan punya teknik tinggi. Suurbier merupakan bagian penting Ajax Amstedam dan timnas pada era 1970-an.

Salah satu bek saya terbaik di dunia dalam satu dekade, Suurbier loyal bersama Ajax sebelum pergi di usia 32 tahun. Dia kemudian berpetualang ke Jerman, Prancis, dan Amerika Serikat.

Bek Tengah: Barry Hulshoff (Belanda), 30 September 1946–16 Februari 2020

Bek tangguh dan bisa diandalkan lain dari Ajax saat memenangkan tiga edisi Piala Champions pada 1970-an. Hulshoff memulai karier di lini tengah sebelum dipindah ke belakang.

Dengan kemampuan mengeksekusi bola mati, Hulshoff juga kerap mencatatkan nama di papan skor. Sayang dia absen di Piala Dunia 1974 akibat cedera.

Bek Tengah: Jack Charlton (Inggris), 8 Mei 1935–10 Juli 2020

Meski permainannya kurang elegan, jangan ragukan determinasi, kepemimpinan, dan hasrat Charlton untuk meraih kemenangan.

Dia merupakan batu karang di jantung pertahanan ketika Leeds United jadi salah satu tim terbaik Eropa. Charlton mempertahankan performa bersama timnas. Membentuk tembok solid bersama Bobby Moore, dia membantu tanah kelahiran jadi juara Piala Dunia 1966.

Bek Kiri: Silvio Marzolini (Argentina), 4 Oktober 1940–17 Juli 2020

Menghabiskan mayoritas kariernya bersama Boca Juniors, talenta Marzolini jarang terpantau dunia. Dia hanya terpantau ketika bermain di Piala Dunia. Namun, pada 1960-an, Marzolini dicap sebagi Giacinto Facchetti versi Amerika Selatan.

Memenangkan berbagai titel di level klub, Marzolini menunjukkan kemampuannya di Piala Dunia 1966. Dia terpilih sebagai bek kiri turnamen tersebut.

Tengah

Diego Maradona. (AFP)
Diego Maradona. (AFP)

Gelandang Bertahan: Nobby Stiles (Inggris), 18 Mei 1942–30 Oktober 2020

Salah satu gelandang ikonik di 1960-an, baik saat membela timnas atau Manchester United. Dia memenangkan Piala Dunia 1966 dan Piala Champions dua tahun berselang.

Pekerjaan utama Stiles adalah menetralisir pemain terbaik lawan, tugas yang kerap dijalankannya dengan baik. Meski begitu, jangan remehkan kemampuannya dalam mengirim umpan.

Gelandan: Mario Corso (Italia), 25 Agustus 1941–19 Juni 2020

Bukan pemain sayap yang biasa menyusuri sisi lapangan, Corso merupakan pemain pintar yang berkontribusi besar bagi Inter Milan dan timnas.

Punya kemampuan mengirim bola, baik umpan pendek, silang, serta bola mati, kreativitas Corso merupakan salah satu kunci sukses Inter Milan pada pertengahan 1960-an.

Playmaker: Diego Maradona (Argentina), 30 Oktober 1960–25 November 2020

Meski banyak yang tidak suka dengan Maradona karena ulah kontroversialnya di dalam dan luar lapangan, kapasitasnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia sepanjang masa sulit diperdebatkan.

Dia adalah jenius lapangan hijau dan jadi bintang utama tim ini.

Depan

Paolo Rossi..
Paolo Rossi..

Penyerang Bayangan: Rob Rensenbrink (Belanda), 3 Juli 1947–24 Januari 2020

Anggota ketiga generasi 1970-an dari Belanda yang masuk tim ini. Rensenbrink adalah pemain cepat dengan kemampuan dribel mumpuni, baik sebagai winger kiri atau penyerang bayangan.

Tidak seperti kompatriotnya, Rensenbrink tidak pernah memperkuat tiga klub terkuat tradisional Belanda. Penampilan terbaiknya diperlihatkan ketika memperkuat klub Belgia Club Brugge dan Anderlecht.

Striker: Paolo Rossi (Italia), 23 September 1956–9 Desember 2020

Sepak bola Italia kehilangan banyak penyerang hebat pada 2020. Salah satunya adalah Rossi.

Dikenal sebagai predator yang piawai mencari posisi, Rossi adalah tipikal striker oportunis khas Italia. Kemampuan miliknya terasah karena klub Serie A lebih mengedepankan taktik bertahan dengan koordinasi kuat.

Puncak karier Rossi hadir di Piala Dunia 1982. Dia jadi top skor kompetisi dan membantu negaranya juara.

Sriker: Pierino Prati (Italia), 13 Desember 1946–22 Juni 202

Selain Rossi dan Pietro Anastasi, penyerang Italia lain yang meninggal tahun ini adalah Prati. Besar bersama AC Milan dan AS Roma, Prati bisa mengisi berbagai posisi di lini depan.

Dia membantu timnas menjuarai Piala Eropa 1968 dan masuk final Piala Dunia 1970.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini