Bolehkah Pilih Vaksin COVID-19, Ini Penjelasannya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah diketahui telah melakukan program vaksinasi COVID-19 sejak awal tahun 2021. Program vaksinasi COVID-19 ini menjadi salah satu cara untuk menghentikan penyebaran COVID-19 di masyarakat.

Vaksinasi diketahui dapat menimbulkan kekebalan di masyarakat sehingga akhirnya dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit COVID-19 di masyarakat. Berbicara mengenai vaksin sendiri di Indonesia terdapat beberapa merek mulai dari Sinovac, Pfizer, Moderna, AstraZeneca.

Beragamnya jenis vaksin di masyarakat kemudian menjadi memilih vaksin yang ingin disuntikkan ke tubuh mereka. Lantas bolehkan memilih vaksin? Terkait hal itu, spesialis penyakit dalam, Susi Maria, Sp.PD-KAI angkat bicara. Dirinya menjelaskan alangkah bijaknya masyarakat untuk menerima jenis vaksin apapun yang tersedia di Indonesia.

"Sekarang kita dengan COVID-19 kelaria-larian kalau mau hentikan penyakit harus punya kekebalan, kalau mau tunggu-tunggu vaksin yang kita pikir lebih baik, maka sambil menunggu kita bisa sakit. Jadi bijaknya adalah terimalah vaksin apapun yang sudah tersedia di Indonesia, terima vaksinasinya maka akan dapat kekebalan," kata Susi dalam tayangan Hidup Sehat TvOne, Jumat 20 Agustus 2021.

Lebih lanjut, Susi menjelaskan bahwa berbagai jenis vaksin yang tersedia saat ini juga tidak ada yang menyebabkan kekebalan tubuh 100 persen.

"Meskipun vaksin mau vaksin A, B, Z tidak akan ada yang menyebabkan kekebalan 100 persen artinya tidak ada yang menjamin 100 persen gak akan sakit. Tapi manfaat vaksinasi adalah terhindar dari sakit berat, terhindar dari ICU, terhindar dari kematian," ujar Susi.

Di sisi lain, tidak sedikit dari masyarakat yang hingga saat ini takut untuk divaksin COVID-19 lantaran takut akan efek samping dari vaksin seperti pembekuan darah, nyeri di area suntikan hingga demam.

Terkait hal itu, Susi menjelaskan bahwa dari berbagai jenis vaksin yang ada efek samping sering terjadi sama antara vaksin a b c dan lain-lain memiliki efek samping yang sering itu sama.

Bisa mengalami nyeri pegal, merah bengkak di daerah suntikan, badan meriang demam menggigil, sakit otot itu wajar dan semua vaksin berpotensi menimbulkan reaksi itu.
Namun, dijelaskan oleh Susi ada reaksi atau efek samping yang jarang di masyarakat.

"Tapi ada reaksi atau efek samping yang jarang inilah yang memang ternyata setelah vaksin digunakan di masyarakat, baru kelihatan vaksin yang jenis ini ternyata kejadian efek samping yang jarang ini sering," kata dia.

Lebih lanjut, Susi mencontohkan vaksin jenis mRNA (Moderna dan Pfizer), ternyata setelah digunakan di masyarakat baru diketahui ternyata penggunaan vaksin ini menyebabkan kejadian efek alergi berat antilepsis itu lebih sering dibanding yang lain.

"Jadi misalnya kejadian reaksi antilepsis pada vaksin lain itu kurang dari 1 kejadian per 1 juta dosis pemberian, pada pemberian vaksin Pfizer bisa sampai 11 kasus per 1 juta pemberian. Tapi vaksin lain juga bisa tapi tidak sesering Pfizer. Kita tidak perlu takut dengan efek samping berat sangat jarang kejadiannya," tutur Susi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel