Bolehkah Saraf Kejepit Diurut?

·Bacaan 2 menit

VIVANyeri pinggang termasuk dalam keluhan yang banyak diderita masyarakat. Dari sekian banyak penyebab nyeri pinggang, saraf kejepit menjadi penyebab kronik terbanyak.

Saraf kejepit atau Herniated Nucleus Pulposus (NHP) memiliki gejala nyeri menjalar dari pinggang hingga paha dan seluruh bagian kaki disertai dengan kelemahan pada salah satu atau kedua kaki.

Tidak sedikit dari masyarakat yang memiliki masalah saraf kejepit akan melakukan pijat. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan rasa nyeri, lantas apakah boleh?

Terkait dengan hal itu, dokter spesalis saraf, dr. Zicky Yombana, SpS angkat bicara. Dia menyebut untuk memijat sendiri tidak disarankan.

"Sebaiknya tidak dipijat, sangat keras hingga bunyi 'kretek' itu tidak direkomendasikan," kata Zicky dalam program Hidup Sehat tvOne, Rabu 9 Juni 2021.

Dijelaskan oleh Zicky, pemijatan sendiri tidak direkomendasikan lantaran ditakutkan akan menyebabkan tulang bergeser.

"Karena banyak atau risiko bukannya menjadi lebih baik terkadang tulangnya menjadi geser. Amannya harus mencari tau lebih tentang saraf kejepit dengan mengunjungi dokter saraf terdekat, harus segera," kata Zicky.

Zicky juga menjelaskan bahwa saraf kejepit ini harus segera dikonsultasikan ke dokter. Sebab, jika dibiarkan dapat berakibat fatal.

"Kalau diabaikan kemungkinan terburuk kelumpuhan. gangguan buang air besar, gangguan buang air kecil, dan akhirnya kelumpuhan," kata Zicky.

Lantas bagaimana cara mengatasi sakit pinggang karena saraf kejepit? Terkait hal itu, Zicky menjelaskan bahwa masyarakat harus memperbaiki posisi gerak. Seperti ketika bangun dari tidur hingga saat mengangkat barang.

"Setiap pagi posisi miring dulu bukan bangun dalam posisi langsung bangun. Hindari posisi membungkuk, jangan membungkuk lagi ketika ambil barang jongkok, buat tlg pinggang tidak menekuk, karena kalau lakukan hal tersebut diharapkan kondisi perbaikan," kata dia.

Zicky juga menjelaskan masyarakat juga bisa mengonsumsi obat pereda nyeri. Namun mengonsumsi obat pereda nyeri tidak bisa dilakukan secara terus menerus.

"Kalau sakit sekali boleh minum obat tapi ada aturannya, minum obat kurleb 2-3 hari kalau tidak membaik ke dokter. obat penghilang nyeri bisa paracetamol," ujar Zicky.