Bolehkan Pasien Malaria Divaksin COVID-19, Ini Penjelasannya

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Penyakit Malaria di tanah air saat ini masih menjadi perhatian serius. Pasalnya beberapa wilayah di tanah air masih belum berhasil mengeliminasi penyakit malaria.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan, Didik Budijanto ada sekitar 23 kabupaten/kota yang masih masuk dalam kategori wilayah endemis tinggi. Di mana 80 persen kasus tertinggi ada di wilayah timur salah satunya di Papua.

"Sementara wilayah yang belum berhasil mengeliminasi satu pun kasus malaria adalah Maluku, Papua Barat, dan Papua," kata Didik dalam press briefing harian Malaria Sedunia 2021, Jumat 23 April 2021.

Namun ditengah pandemi COVID-19 dan program vaksinasi COVID-19 yang tengah dilakukan pemerintah untuk menekan kasus positif COVID-19 di masyarakat. Apakah mereka yang mengidap malaria diperbolehkan mendapatkan vaksin COVID-19? Terkait hal itu, Didik menyampaikan bahwa mereka yang sudah terpapar malaria bisa mendapatkan vaksin COVID-19.

"Penderita malaria yang sudah sembuh dan tidak terdapat parasit di darah dan memenuhi kriteria vaksin COVID-19 bisa divaksin COVID-19," ujar Didik.

Untuk diketahui, Malaria merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium spp. Parasit ini hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia dan ditularkan melalui gigitan nyamuk malaria (Anopheles) betina.

Didik menjelaskan, di tengah pandemi COVID-19 seperti ini masyarakat juga harus mewaspadai sejumlah gejala khas dari malaria. Dijelaskannnya, baik COVID-19 dan malaria sama-sama memiliki gejala demam.

"Sama-sama gejala demam jangan sampai terkecoh, maka perlu pemeriksaan diagnosis sample," ujarnya.

Dilansir dari laman Litbangkes berikut ini gejala dan tanda malaria

-Lesu/lemah
-Menggigil kedinginan tetapi suhu badan tinggi
-Berkeringat dingin, diiringi turunnya panas
-Sakit kepala, mual dan muntah
-Nafsu makan berkurang

Penularan Malaria

-Nyamuk Anopheles menggigit penderita malaria. Parasit di darah terhisap nyamuk yang menggigit.
-Dalam tubuh nyamuk, parasit berkembang biak
Sesudah 7 sampai 14 hari, nyamuk tersebut menggigit orang sehat maka parasit ditularkan.
-Dalam waktu ±12 hari orang tersebut sakit malaria

Cara penularan lainnya dapat melalui transfusi darah, melalui plasenta dari ibu ke bayinya (bila ibu hamil mengidap penyakit malaria).

Cara Pencegahan

1. Hindari gigitan nyamuk penular malaria (Anopheles), antara lain dengan:

a. Menggunakan kelambu saat tidur atau mengenakan pakaian panjang
b. Olesi tubuh/badan dengan minyak sereh, minyak kayu putih, atau obat oles anti nyamuk
c. Semprotkan obat anti nyamuk sebelum tidur pada kamar tidur, ruang keluarga, dan ruang tamu
d. Gunakan obat anti nyamuk bakar
e. Memasang kawat kasa pada jendela dan lubang ventilasi rumah
f. Menempatkan kandang ternak terpisah dengan tempat tinggal

2. Mengendalikan Kepadatan Nyamuk Anopheles :

a. Bersihkan lingkungan rumah dari semak-semak yang rimbun, agar sinar matahari bisa masuk menerangi
b. Bersihkan parit dan selokan agar tidak terjadi genangan air, atau aliran air tetap deras.
c. Mengeringkan genangan air yang tidak diperlukan.
d. Melaksanakan mina padi di sawah.
e. Mengatur pola tanam padi secara serempak atau berselang( padi-palawija-padi)
f. Tebarkan ikan pemakan jentik, mujair dan nila pada genangan potensial atau kolam yang tidak terawat.