Bom Bunuh Diri di Makassar, Wagub DKI: Pelaku Dapatkan Pemahaman yang Salah

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengemukakan aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu 28 Maret 2012, dipengaruhi pemahaman sempit.

"Yang pertama, memang masalah bom itu disebabkan pemahaman yang salah atau sempit dari masyarakat, apalagi itu generasi muda umur 21 tahun, jadi anak-anak kita, adik-adik kita ini mendapatkan pembelajaran dan pemahaman yang salah," kata Ahmad Riza Patria di Balai Kota Jakarta, Senin (29/3/2021).

Ia mengatakan bahwa generasi muda perlu mendapatkan pendidikan yang baik sesuai dengan ketentuan aturan yang ada di sekolah, kampus, serta lembaga pendidikan lainnya.

"Tentu tugas pemerintah membuat regulasi, silabus, kurikulum, dan sebagainya bersama pihak swasta," katanya yang dikutip dari Antara.

Riza mengatakan bahwa permasalahan itu karena ada kelompok dengan pemahaman yang sempit, memengaruhi generasi muda dengan pemahaman yang salah tentang kegiatan terorisme.

"Seolah-olah kegiatan itu baik, bahwa bunuh diri itu dianggap satu pengorbanan, padahal bunuh diri itu dosa," katanya.

Bunuh Diri Dosa Besar

Dari segi agama, kata Riza, bunuh diri adalah dosa besar sehingga Pemprov DKI Jakarta perlu memastikan bahwa semua materi pendidikan sesuai dengan ketentuan yang ada.

Yang kedua, kata Riza, pergaulan generasi muda perlu diawasi, terutama untuk memastikan bahwa lingkungannya dalam kondisi baik.

"Itu perlu kerja sama semua, khususnya dari seluruh warga, aparat kita hadirkan sebanyak mungkin tidak cukup jumlahnya," katanya.

Riza mengimbau seluruh pihak memberikan masukan dan informasi apabila ada satu tempat/wadah yang memberikan pemahaman sempit serta pembelajaran yang salah.

"Hal ini untuk segera dideteksi, kemudian dilakukan tindakan pencegahan," katanya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: