Bom Bunuh Diri Makassar, Bukti Nyata Ancaman Radikalisme

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar jadi bukti nyata ancaman bahaya radikalisme. Aksi teror di depan Katedral itu menambah rentetan teror yang berulang kali terjadi.

Demikian disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Mubaligh Muda Indonesia (JAMMI), Irfaan Sanoesi. Dia menekankan pandangan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko baru-baru ini terkait ancaman radikalisme dan terorisme itu benar nyata.

Menurut Irfaan, terorisme adalah puncak dari politisasi agama. Para elite politik diminta fair dan menghindari politisasi agama yang bisa mengancam keutuhan bangsa.

“Intinya adalah agar berkompetisi di berbagai level pemilu secara sehat, jujur, dan adil. Harus menghindari politisasi agama karena akan merusak tatanan sosial dan keutuhan bangsa," ujar Irfaan, dalam keterangannya, Senin, 29 Maret 2021.

Irfaan mengatakan, ideologi radikalisme benar-benar nyata. Ideologi tersebut selalu menganggap kelompoknya benar, namun pihak lain selalu salah. Pola pikir ini yang dipakai para teroris untuk melukai dengan cara teror kekerasan termasuk bom bunuh diri.

"Mereka sudah dicuci otaknya sedemikian rupa hingga berani melakukan aksi di luar nalar. Menebar ketakutan dan teror kepada semua orang. Radikalisme dan terorisme merupakan ancaman yang benar-benar nyata bagi kemajemukan Indonesia," jelas Irfaan.

Irfaan yakin, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Menurut dia, setiap agama pasti mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Bagi dia, orang yang beragama tentu mengedepankan cinta dalam bersikap sehingga akan menyayangi sesama. Namun, ia menyayangkan pelaku bom bunuh diri Katedral Makasar menggunakan atribut muslim sehingga merusak citra Islam.

“Menjaga citra Islam adalah bagian dari maqashid syariah. Islam adalah agama rahmat tak hanya bagi manusia, melainkan bagi seluruh alam semesta. Namun, para teroris memutarbalikannya," ujarnya.

Pun, ia bilang pelaku teror bom bunuh diri di Makassar itu tak mewakili umat muslim.

"Mereka adalah korban dari paparan ideologi kematian yang sangat berbahaya bagi kehidupan dan kemanusiaan,” tutur Irfaan.

Sebelumnya, aksi bom bunuh diri terjadi di pintu gerbang Gereja Katedral Makassar, Minggu, 28 Maret 20211 sekitar pukul 10.20 WITA. Pelaku adalah pasangan suami istri yang tewas karena aksinya melakukan bom bunuh diri.

Adapun korban luka terkena serpihan bom ada belasan orang yang berasal dari jemaat gereja dan sekuriti.