Bootcamp Fashion, Desainer Wignyo Rahadi Melatih Santri Usaha Fashion dan Konveksi

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Industri fashion dan keuangan syariah ternyata memiliki hubungan yang erat jika diupayakan dengan baik. Hal inilah yang diupayakan desainer Indonesia Wignyo Rahadi untuk memaksimalkan potensi usaha konveksi dan industri fashion.

Dimulai dari lingkup pesantren, Wigyno Rahadi percaya industri fashion bisa menciptakan kemandirian ekonomi pesantren. Bahkan bisa memberikan manfaat ke lingkungan masyarakat sekitar pesantren.

Mempertimbangkan besarnya potensi usaha produk fashion di pondok pesantren, Wignyo Rahadi memiliki pondok pesantren di wilayah Banten untuk menggelar program pelatihan dan pemberdayaan di bidang fashion untuk para santri Pondok Pesantren Roudlotul Huda di Pandeglang, Banten, dan masyarakat sekitarnya yang telah menjalani usaha konveksi.

“Pesantren mempunyai andil cukup besar dalam proses menciptakan sumber daya manusia yang unggul, berkualitas, dan religius di bidang usaha fashion. Melalui pelatihan ini diharapkan dapat memunculkan potensi dan meningkatkan keahlian santri dan alumni pesantren agar semakin terampil, inovatif dan kreatif, serta mampu menghasilkan produk fesyen yang berkualitas tinggi, baik secara desain maupun kualitas jahit,” papar Wignyo Rahadi.

Dikembangkan melalui pelatihan

Desainer Wignyo Rahadi melirik pengembangan fashion berbasis santri dengan menggelar pelatihan (Foto: Wignyo Rahadi)
Desainer Wignyo Rahadi melirik pengembangan fashion berbasis santri dengan menggelar pelatihan (Foto: Wignyo Rahadi)

Pelatihan yang disebut Bootcamp Fashion ini menjadi bagian dari program pengembangan kemandiran ekonomi pondok pesantren melalui peningkatan kualitas dan kapasitas produk fashion muslim. Bootcamp Fashion 2020 telah dilaksanakan selama 14 hari pada November 2020.

Diikuti 40 peserta, mencakup santri pesantren dan beberapa UMKM fashion binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten. Peserta mendapat dua kelas sekaligus, yakni kelas desain dan kelas menjahit.

Ditantang menggunakan kain tradisional Banten

Desainer Wignyo Rahadi melirik pengembangan fashion berbasis santri dengan menggelar pelatihan (Foto: Wignyo Rahadi)
Desainer Wignyo Rahadi melirik pengembangan fashion berbasis santri dengan menggelar pelatihan (Foto: Wignyo Rahadi)

Peserta pun ditargetkan dapat merealisasikan sketsa rancangan menjadi busana siap pakai. Selama masa pelatihan, peserta diarahkan untuk membuat tiga jenis busana. Mulai dari busana desain dasar, busana dengan pecah pola dan aplikasi lebih dari satu jenis bahan, serta busana untuk fashion show.

Para peserta pun ditantang untuk mengaplikasikan tenun Baduy dan batik Lebak yang menjadi kain tradisional asal Banten dalam berbagai rancangan sentuhan modern. Koleksi busana karya para santri ini berkesempatan untuk tampil dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten secara virtual.

Desainer Wignyo Rahadi melirik pengembangan fashion berbasis santri dengan menggelar pelatihan (Foto: Wignyo Rahadi)
Desainer Wignyo Rahadi melirik pengembangan fashion berbasis santri dengan menggelar pelatihan (Foto: Wignyo Rahadi)

Simak video berikut ini

#changemaker