Bos Bio Farma Cerita Tantangan Penuhi Vaksin dan Distribusinya

Agus Rahmat, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Honesti Basyir, mengatakan bahwa tantangan untuk pengadaan vaksin COVID-19 dialami semua negara, tidak hanya Indonesia. Menurut dia, semua negara saat ini tengah berlomba-lomba memproduksi atau membeli vaksin dari sejumlah perusahaan.

Jika mengacu pada Indonesia, kata Honesti, tantangan beratnya karena jumlah penduduk dan wilayah Indonesia yang begitu luas.

"Total suplay vaksin yang harus kita siapkan untuk bisa memenuhi herd imunity itu ada sekitar 426 juta vaksin. Dan kita tahu persis, bahwa ini tidak sederhana dari segi suplaynya. Pertama untuk mendapatkan komitmen suplay, baik itu bentuk vaksin jadi maupun bahan baku, ini juga rebutan di dunia. Karena suplay nya terbatas, demand-nya (permintaan) sangat luar biasa," kata Honesti dalam diskusi yang digelar oleh Myshipgo, Sabtu 27 Maret 2021.

Baca juga: Embargo Vaksin COVID-19, Momentum Percepat Vaksin Dalam Negeri

Dari 426 juta vaksin itu, jika dirinci, mengacu pada rencana atau target pemerintah sebanyak 181 juta penduduk Indonesia divaksin dengan dua dosis. Kemudian, jumlah itu harus perlu disediakan cadangan sebanyak 15 persen.

Lagi- lagi, kata Honesti, perusahaan pelat merah yang dipimpinnya bersama pemerintah, juga harus harus cekatan mendapatkan vaksin atau mengembangkannya di dalam negeri.

"Kemampuan produksi vaksin dunia itu sekarang hanya 6,5 miliar dosis per tahun. Sementara, dari data yang kita dapat ada lebih kurang 11 miliar dosis yang harus disiapkan. Jadi memang ada gap luar biasa tinggi antara suplay (pasokan) dan demand," lanjut Honesti.

Persoalan atau tantangan lainnya adalah mengenai distribusi. Bio Farma dan pemerintah mesti memastikan, vaksin itu tetap berkualitas dan berkhasiat jika tiba di Tanah Air. Sebab ada ketentuan, sistem rantai dingin atau cold chain mengacu pada yang sudah ditetapkan WHO.

"Dengan tantangan adalah geografisnya Indonesia yang luar biasa, lebih kurang 17 ribu lebih pulau. Dengan kemampuan cold chain itu kan tidak merata. Itu tantangan juga," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, CEO dan Cofounder myshipgo, Harlin E. Rahardjo mengajak para stakeholders untuk membantu pemerintah dalam mendistribusikan vaksin COVID-19 hingga pelosok daerah.

Hal ini dilakukan, dalam rangka membangkitkan semangat anak bangsa dalam menghadapi pandemi COVID-19 yang sudah berjalan selama satu tahun lebih ini. Dia menyasar sejumlah stakeholders di sektor maritim, kelautan dan logistik.

"Sektor maritim, kelautan dan logistik ini harus menjadi perhatian karena Indonesia negara kepulauan (17.000 lebih pulau) yang 70 persen wilayahnya terdiri dari laut," ujar Harlin dalma press rilis yang diterima VIVA, Rabu 24 Maret 2021.

"Selain itu, myshipgo berharap dapat merangkul para stakeholders disektor tersebut untuk berkolaborasi dan bersinergi untuk bangkit dari situasi pandemi covid 19 ini demi memajukan Indonesia," sambung Harlin.