Bos McLaren Ungkap Alasan Ferrari Merekrut Sainz

Adam Cooper
·Bacaan 2 menit

Seidl juga memuji kematangan pembalap asal Spanyol itu dalam mengatasi kemungkinan munculnya hal-hal tidak menyenangkan selama turun bersama McLaren walaupun ia sudah resmi menjadi pembalap Ferrari musim depan.

Sainz berada di peringkat ketujuh klasemen Kejuaraan Dunia F1 2020 yang tinggal menyisakan tiga lomba. Hal itu terjadi setelah ia mampu finis di posisi kelima GP Turki, Minggu (15/11/2020) lalu, kendati start dari dari grid 15.

“Lomba sangat sulit seperti di Turki kian menegaskan kualitas Sainz,” tutur Seidl. “Kami tahu, Sainz sangat menyukai lomba dalam kondisi yang sulit ditebak. Ia suka lintasan basah atau campuran. Kami tahu itu dari hasil-hasil lombanya dalam kondisi tersebut.”

Seidl menambahkan, Sainz memiliki cara pendekatan yang tepat untuk menghadapi situasi yang memiliki risiko tinggi. Lihat saja yang dilakukannya di Sirkuit Istanbul Park, saat kondisi lintasan sulit ditebak: hujan, mengering, mendung lagi menjelang finis, dan masih ada area yang basah saat lomba selesai.

“Dalam kondisi trek yang licin tanpa grip, Sainz mampu menjaga mobil tetap di lintasan sekaligus berusaha meningkatkan kecepatan dan tetap melihat peluang untuk ke depan,” ucap Seidl.

Baca Juga:

Button: Alonso Lebih Baik sebagai Rekan Setim Hamilton Enggan Dianugerahi Gelar Kesatria Raikkonen Klaim GP Turki Menyebalkan

Apa yang dilakukan Sainz, menurut pria asal Jerman itu, sangat berguna saat bekerja sama dengan para teknisi, khususnya tim teknisnya. Kondisi seperti di Istanbul lalu menuntut pembalap mampu memberikan masukan yang tepat untuk tim teknis di pit.

Menurut Seidl, dari caranya berkomunikasi, ketenangan, dan tekniknya saat lomba di Istanbul, menunjukan kematangan Sainz sebagai pembalap F1.

“Data yang ia berikan tentang kondisi trek dengan yang kami liat di pit (dari pengawas dan direktur lomba GP Turki) sangat presisi. Itu memudahkan para teknisi membuat keputusan tepat terkait strategi,” kata Seidl.

“Sainz pembalap hebat. Itulah alasan mengapa Ferrari memilihnya untuk F1 mulai tahun depan.”

Saat disinggung apa yang membuat Seidl menyukai Sainz soal kemampuannya di lintasan adalah cara putra pereli top Spanyol, Carlos Sainz, itu adalah caranya menghadapi situasi sulit seperti di Istanbul.

Sainz juga tipe pembalap dengan komitmen tinggi. Motivasinya yang tinggi juga berpengaruh ke tim. “Itulah kunci dari hasil yang kami raih musim ini. Saya tidak sabar untuk melihatnya di tiga balapan terakhir bersama McLaren. Saya berharap kami bisa mengalahkannya tahun depan,” ucap Seidl.

Seidl juga memuji performa Lando Norris, pembalap McLaren lainnya, yang mampu finis kedelapan setelah start paling buncit (18, karena dua pembalap Williams dihukum start dari pit lane) di Istanbul.

“Anda melihat seperti apa kecepatan Norris meski di awal-awal lomba sempat mengecewakan karena tertahan di belakang,” kata Seidl. “Norris hanya agak bermasalah saat start karena grip yang nyaris tidak ada.”