Bos NASA: Menjejakkan Kaki ke Mars Adalah Takdir Manusia

Liputan6.com, Washington DC : Setelah berhasil "menaklukan" Bulan di dekade 1960-an lalu, manusia kembali meretas mimpi besar dalam penjelajahan luar angkasa: menjejakkan kaki ke Plenet Mars.

Kepala Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Charles Bolden bahkan mengatakan, menjejakkan kaki di Mars pada tahun 2030 adalah bagian dari takdir manusia. Sekaligus menjadi prioritas AS.

Dalam sambutannya di konferensi ahli angkasa luar di George Washington University,  Charles Bolden mengatakan, meski kondisi perekonomian di AS didera kesulitan, komitmen untuk menembus batas dalam penjelajahan angkasa luar, tak lantas padam.

"Misi manusia ke Mars saat ini adalah tujuan akhir dalam tata surya kita. Itu adalah prioritas bagi NASA. Semua program eksplorasi kami sejalan untuk mendukung tujuan itu," kata Bolden, seperti dimuat News.com.au, Selasa (7/5/2013).

Bolden menambahkan, Presiden AS Barack Obama telah mengajukan anggaran US$ 17,7 miliar dolar untuk anggaran NASA di tahun 2014. "Presiden mendukung strategi dinamis dan terkoordinasi untuk eksplorasi Mars," kata Bolden.

Di antara langkah awal mengirim manusia ke Mars adalah rencana NASA untuk menangkap dan merelokasi sebuah asteroid pada tahun 2025 -- untuk menguji kemampuan mengirimkan manusia mengarungi angkasa luar lebih dalam.

Ada lagi astronot AS,  Scott Kelly yang sukarela bersedia mengabiskan waktu setahun di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun 2015. Memungkinkan dokter menilai bagaimana berada di ruang hampa udara berefek pada kepadatan tulang, massa otot, dan penglihatan manusia.

Saat ini, seorang astronot maksimal menghabiskan waktu 6 bulan di pesawat luar angkasa.

Namun, meski minat mendarat ke Mars amat tinggi, diwarnai munculnya perlombaan yang melibatkan banyak negara -- tak hanya AS dan Rusia, banyak ahli yang tak tahu  bagaimana mencapai "Planet Merah".

Misalnya, belum ada pesawat luar angkasa sejauh ini yang mampu membawa manusia menempuh perjalanan 7 bulan atau lebih lama. Belum termasuk soal rencana mengembalikan mereka ke Bumi, yang belum diketahui bagaimana.

Para ahli medis juga belum yakin apa konsekuensi fisik yang dialami orang-orang yang mencoba untuk melakukan perjalanan dalam lingkungan radiasi tinggi, dalam waktu lama.

Lebih jauh lagi, belum diketahui bagaimana manusia bisa selamat, makan, bernafas, minum, di planet yang kering kerontang, tanpa air dan oksigen.

Namun, "AS telah menunjukkan bagaimana kita bisa pergi ke Bulan," kata Bolden. "Meski ada kesenjangan teknologi untuk mengirim manusia ke asteroid dan Mars."

"Jadi, setiap momentum waktu dan setipa dolar yang kita miliki akan didedikasikan untuk mengembangkan teknologi itu, yang memungkinkan kita jauh melewati orbit Bumi, melampaui Bulan." Ke Mars. (Ein)