Bos OJK Bahas Buku Le Parle Covidnomics: Kita Buat Kebijakan untuk Bisa Bertahan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 yang terjadi membuat banyak pihak perlu memutar otak dalam menentukan arahnya. Salah satu yang memiliki peran besar adalah kebijakan pemerintah guna menyikapi berbagai penanganannya.

Satu sisi, kesehatan masyarakat jadi yang utama, dan di sisi lain, sektor ekonomi masyarakat juga perlu sebisa mungkin didongkrak meningkat. Upaya-upaya pemerintah dan pandangan pengamat pun dituangkan dalam buku berjudul Le Parle Covidnomics.

Menanggapi buku tersebut, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menilai, semua kebijakan yang dilakukan pemerintah semata-mata untuk membuat ekonomi tetap bertahan ditengah pandemi Covid-19.

Ia mengatakan upaya pemerintah dengan penerapan PPKM dimaksudkan untuk menata kerumunan agar tak berlebihan. Kemudian, percepatan vaksinasi bisa disebar merata ke seluruh daerah sehingga semakin banyak penerimanya.

“Menghindari penyebaran covid, distribusi vaksin butuh waktu, persiapkan rumah sakit gak gampang, sehingga mobilitas orang (jadi hal) penting untuk dikendalikan, menjaga agar tak terdampak covid,” katanya dalam Edukasi dan Sosialisasi Bedah Buku, Le Parle Covidnomics, Selasa (31/8/2021).

Ia menekankan guna mendukung berbagai upaya pemerintah tersebut, poin pentingnya adalah dengan melaksanakan protokol kesehatan.

“Kita tahu adanya covid ini masalah kesehatan, tapi obatnya adalah kita yang utama menjaga agar kita tak kena covid -19 sehingga kita masing-masing harus jaga diri kita dengan berbagai prokes,” katanya.

Kemudian, Wimboh menuturkan, di sisi lain dari turunnya mobilitas ada berbagai pihak yang tak bisa meraih pendapatan. Misalnya, sopir ojek yang tak bisa beroperasi, warung yang tidak buka, hingga taksi yang tak kunjung mendapat penumpang.

“Begitu besar dampaknya ke dunia usaha, kami yakin, upaya utama yang dilakukan agar masyarakat tak kelaparan adalah dengan menyalurkan Bansos, yang harus jadi utama,” katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

UMKM Terdampak

Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan air mancur dari paralon bekas di Abah Matul, Tapos, Depok, Kamis (1/4/2021). Tahun ini, Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) atau BLT UMKM kembali disalurkan pada 9,8 juta pelaku usaha dengan besaran RP 1,2 juta per penerima. (Liputan6.com/Herman Zakharia)
Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan air mancur dari paralon bekas di Abah Matul, Tapos, Depok, Kamis (1/4/2021). Tahun ini, Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) atau BLT UMKM kembali disalurkan pada 9,8 juta pelaku usaha dengan besaran RP 1,2 juta per penerima. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Lebih lanjut, Wimboh mengatakan bahwa sektor UMKM juga terdampak cukup besar. Namun, ini juga memberikan dampak ke seluruh sektor pengusaha. Melihat fenomena tersebut, ia mengatakan mengeluarkan kebijakan untuk meringankan beban-beban pengusaha.

Misalnya, dengan relaksasi cicilan ke bank untuk sementara agar pelaku usaha tak dikejar untuk biaya sewa sehingga bisa fokus terlebih dahulu kepada pemulihan usahanya.

“Dampak ke pengusaha terutama UMKM ini jadi luar biasa dampaknya. Apa yang bisa kita lakukan, agar umkm bisa survive sementara yang pemerintah menyelesaikan kesehatan,” katanya.

Menurutnya, upaya OJK yang tergabung dalam Financial Stability Committee bersama dengan pemangku kepentingan lainnya menciptakan berbagai kebijakan agar masyarakat bisa bertahan dan akhirnya bangkit lagi. Salah satunya dengan melonggarkan budget pemerintah.

“Defisit di tahun 2022 diprediksi 4,8 persen, ini dilakukan untuk bisa menyangga agar bisa survive, agar masyarakat tidak kelaparan dan juga anggaran diperlukan untuk mulai menstimulasi agar bisa recovery,” tuturnya.

Ekonomi Baru

Kemudian, dengan kondisi ekonomi domestik indonesia yang ditopang oleh konsumsi, baik konsumsi masyarakat dan pemerintah, maka ia mengatakan perlu ada sumber ekonomi baru. Hal ini yang ia katakan juga tertuang dalam buku Le Parle Covidnomics.

Ia mengatakan, sejak masuk 2021, pihaknya telah mulai mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pasalnya, tak bisa selalu bergantung pada tingkat konsumsi masyarakat yang bergantung pada mobilitas.

“Pemerintah untuk penanganan Covid-19 dengan pembatasan masyarakat, ini pasti konsumsi turun, orang di rumah makan alakadarnya, Gak bisa mengunjungi keluarga, dampaknya luar biasa, transportasi tidak laku, konsumsi tidak laku,” katanya.

Kendati demikian, ia mengatakan telah menemukan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang juga telah diinisasi. Ia mencontohkan misalnya produksi pertanian tak hanya menjual bahan mentah tetapi barang jadi.

“Bagaimana produksi pertanian kita perbesar kita efektifkan kita biayai lantas kita olah, olahan itu dilakukan terintegrasi dan modern dan bisa diekspor. Ini mulai dari beras, tomat, cabai, ini sekarang kita telah terjadi over produksi bisa ganggu harga, kalau tidak diserap harganya turun,” katanya.

Bahkan terkait penjualan di dalam negeri, ia mengatakan bisa memanfaatkan digitalisasi UMKM dengan menjualnya secara online.

Sementara itu, terkait buku yang merangkum tentang upaya-upaya yang dilakukan berbagai pihak untuk bisa bertahan di masa pandemi, Wimboh meminta ada lanjutan buku tersebut yang membahas tentang recovery.

“Harus dilanjutkan episode recovery, dan ini akan berikan sumbangsih kepada generasi muda, ke kita semua, sehingga kita pahami bagaimana pemangku kepentingan dan pengusaha bersama-sama bangkit,” katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel