Bos Zoom Minta Maaf dan Janjikan Solusi atas Masalah Privasi Pengguna

Liputan6.com, Jakarta - CEO Zoom Eric S. Yuan akhirnya angkat bicara mengenai sejumlah persoalan privasi yang dilayangkan pada layanannya. Menurut laporan CNN, Eric mengaku perusahaan sempat salah langkah.

Menurut Eric, layanan Zoom awalnya ditujukan untuk perusahaan skala besar. Namun di tengah krisis Covid-19, ada sejumlah pengguna baru yang memang belum menjadi fokus perusahaan.

"Layanan kami dibangun untuk melayani pelanggan perusahaan besar. Namun dalam krisis Covid-19, kami bergerak terlalu cepat. Bagaimanapun, ada beberapa salah langkah," tutur Eric seperti dilansir The Verge, Senin (6/4/2020).

Oleh sebab itu, Eric mengatakan pihaknya telah belajar dari hal tersebut dan berjanji akan mengatasinya dalam beberapa hari ke depan.

Sebelumnya, dalam blog resmi Zoom, Eric mengatakan perusahaan akan berkomitmen dan mendedikasikan seluruh sumber daya yang ada, untuk mengidentifikasi hingga mengatasi masalah yang ada di platformnya.

"Selama 90 hari, kami berkomitmen untuk mengidentifikasi masalah lebih baik, mengatasi dan menyelesaikannya. Kami juga akan bersikap transparan selama proses tersebut," tulis Eric.

Eric menuturkan salah yang akan dilakukan dilakukan Zoom adalah menerapkan sistem feature freeze, yakni perusahaan tidak akan menggulirkan fitur baru, sebelum masalah yang ada berhasil diatasi.

Tidak hanya itu, perusahaan juga akan melakuan peninjauan menyeluruh dengan melibatkan ahli pihak ketiga dan perwakilan pengguna. Jadi, Zoom dapat memahami dan memastikan keamanan layanannya.

Banyak Keluhan Soal Keamanan, Zoom Lakukan Sejumlah Perubahan

Ilustrasi pertemuan virtual dengan menggunakan aplikasi Zoom. Kredit: Zoom

Zoom mengumumkan akan melakukan sejumlah perubahan terutama dari sisi keamanan untuk layanan di platformnya. Perubahan ini dilakukan untuk menghindari sejumlah masalah yang dialami pengguna saat ini.

Salah satu masalah yang menjadi sorotan baru-baru ini adalah Zoom Bombing. Untuk diketahui, insiden ini merupakan aksi pihak tidak bertanggung jawab yang tiba-tiba masuk dan menganggu sebuah pertemuan.

Untuk itu, seperti dikutip dari Engadget, Minggu (5/4/2020), Zoom kini menerapkan password untuk setiap pertemuan yang akan diadakan, sehingga tidak bisa sembarang orang masuk.

Perubahan ini akan dilakukan mulai 5 April 2020. Dengan perubahan ini pula, pertemuan yang dijadwalkan setelah 5 April 2020 harus mengirimkan ulang kembali undangannya, sehingga sudah disertakan password.

Selain itu, fitur waiting room kini sudah menjadi setelan bawaan di Zoom. Jadi, host dalam pertemuan dapat mengecek terlebih dulu peserta yang akan ikut serta dalam video conference.

Perubahan ini juga disebut menjadi bagian janji CEO Zoom Eric S. Yuan untuk meningkatkan layanannya. Sebelumnya, Eric menyebut akan mendedikasikan seluruh sumber daya perusahaan untuk memperbaiki keamanan dan privasi.

Warganet Kaget Orang Asing Muncul Tiba-Tiba di Zoom, Apa yang Terjadi?

Ilustrasi Zoom. Kredit: Zoom

Untuk diketahui, Zoom Bombing memang sempat dilaporkan sempat terjadi di terjadi banyak negara, tak terkecuali Indonesia. 

Untuk di Indonesia, aksi semacam ini sempat dilaporkan akun Twitter @collegemenfess beberapa waktu lalu. Akibatnya, banyak warganet yang bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di Zoom.

Dikutip dari Fortune, Sabtu (4/4/2020), aksi yang sedang marak itu dikenal dengan nama Zoom Bombing. Jadi, seseorang yang tidak dikenal masuk dalam sebuah pertemuan dan mengacakuannya.

Laporan menyebut aksi ini terjadi di banyak pertemuan, mulai dari kasual hingga tingkat tinggi. Biasanya, para pelaku mengacaukan sebuah pertemuan dengan olok-olok bernada rasial hingga mengirimkan gambar yang mengganggu.

Dengan kondisi itu, sudah jelas para peserta dalam pertemuan di Zoom akan terganggung dan memilih meninggalkan pertemuan. Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi?

Setelah ditelusuri, aksi Zoom Bombing ternyata kebanyakan bukan berasal dari masalah di platform tersebut. Pengguna sendiri yang menjadi menyebabkan aksi ini terjadi.

Menurut Cofounder dan CEO Cybint, Roy Zur, kebanyakan pengguna yang menjadi korban aksi ini biasanya menyetel pertemuan Zoom menjadi publik, sehingga dapat diakses siapa pun yang mempunyai tautan pertemuan itu.

(Dam/Why)