"The Boy with Moving Image", sebuah kegelisahan dari sineas muda

Ida Nurcahyani
·Bacaan 2 menit

Sutradara muda Roufy Nasution menuangkan kegelisahan yang tak bisa dia curahkan dalam film pendek melalui "The Boy with Moving Image" (TBWMI), film panjang pertamanya.

Roufi membuat TBWMI bersama beberapa sineas muda Bandung Raya di bawah payung Cinemora Pictures dan Aksa Bumi Langit.

Baca juga: Lima film Indonesia rekomendasi Tissa Biani yang wajib ditonton

Dalam film berdurasi 103 menit, Roufi mencurahkan kegelisahan sekaligus berusaha menangkap momen di luar kebiasaan manusia yang mungkin terjadi dalam hidup. Dia mengemasnya melalui potret sederhana kehidupan dengan pendekatan alami yang terangkum dalam interaksi tokoh Vaiyang dan Ning.

“Saya berharap bahwa film ini bukan hanya menjadi sekadar film, tetapi menjadi sebuah gerakan yang membangkitkan ekosistem film independen di bandung agar dapat terus eksis karena bertahun-tahun belum ada lagi yang berani membuat fitur film independent fiksi di Bandung," kata produser Dzikri Maulana dalam siaran resmi, Sabtu.

"The Boy with Moving Image" berkisah mengenai Vaiyang (Bryancini), seorang sutradara yang ingin menyewa sebuah rumah untuk keperluan pengambilan gambar yang ditinggali oleh seorang perempuan bernama Ning (Nithalie Louisza).

Vaiyang diizinkan menggunakan rumah Ning dengan syarat, Vaiyang harus mau menemani Ning hingga hari di mana ajalnya tiba.

TBWMI rencananya ditayangkan pertama kali pada program Indonesian Splash di festival Jogja Asian-NETPAC Film Pacific pada 27 Desember 2020.

Film ini diharapkan bisa tayang di bioskop dan ruang pemutaran alternatif komunitas film Indonesia pada 2021.

Dzikri menjelaskan, TBWMI jadi istimewa karena mengusung semangat guerrilla filmmaking yang punya anggaran, alat dan kru sederhana. Namun di tengah semua keterbatasan, semangat untuk berkarya tetap berkobar menggelora demi menghasilkan karya maksimal.

"Semoga karya ini dapat menjangkau penonton seluas-luasnya, dan semoga semangat yang dibawa dalam karya ini dapat menjadi motivasi bagi para pembuat film di luar sana bahwa berkarya dapat dilakukan meskipun dengan keterbatasan serta tidak ada yang tidak mungkin untuk memiliki pencapaian selama kita berusaha untuk mencapainya," tutup dia.


Baca juga: Dewi Yull ingin film Indonesia ada "subtitle" untuk teman tuli

Baca juga: Perkuat cerita sebelum jadikan film Indonesia alat diplomasi

Baca juga: Daftar nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2020