BPBD Kota Batu petakan daerah rawan bencana jelang musim hujan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu mulai memetakan potensi terjadinya bencana alam pada sejumlah wilayah yang masuk dalam kategori rawan menjelang datangnya musim hujan.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Achmad Choirur Rochim di Kota Batu, Jawa Timur, Selasa, mengatakan bahwa pemetaan untuk menghadapi adanya potensi bencana seperti banjir dan tanah longsor di wilayah tersebut, juga melibatkan masyarakat.

"Secara kajian memang sudah ada data, tapi perlu partisipasi masyarakat untuk tambahan informasi, titik-titik mana saja yang mereka ketahui dan rawan terhadap bencana ketika musim hujan," kata Rochim.

Ia menjelaskan, dengan adanya pendataan yang melibatkan masyarakat terkait potensi bencana alam tersebut, diharapkan bisa menjadi salah satu modal untuk mengambil langkah mitigasi atau meminimalisasi dampak jika terjadi bencana.

Baca juga: BPBD Kota Batu minta warga waspadai potensi bencana tanah longsor

Menurutnya, proses pendataan wilayah yang berpotensi terjadi bencana pada saat musim hujan tersebut akan dilakukan hingga 23 September 2022.

BPBD Kota Batu mengharapkan masyarakat bisa memberikan informasi terkait potensi terjadinya bencana di masing-masing wilayah.

Ia menambahkan, berdasarkan data BPBD Kota Batu, memang ada sejumlah titik yang diwaspadai karena berpotensi terjadi bencana alam pada saat musim hujan. Wilayah-wilayah itu memiliki potensi tinggi terjadi bencana alam pada saat curah hujan tinggi.

"Jadi masih dimungkinkan terulang kembali kejadian bencana seperti banjir, longsor pada titik yang sudah kami petakan," ujarnya.

Salah satu titik yang menjadi perhatian BPBD Kota Batu adalah di Desa Beru, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Di lokasi tersebut, dimensi sungai yang kecil sudah tidak memadai jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

Baca juga: Banjir bandang Kota Batu bukan mencari siapa, tapi apa yang salah?

"Untuk yang terpetakan di kami dan menjadi perhatian adalah di Desa Beru. Kali Paron itu, rutinitas tahunan. Kajian kami, memang dimensi sungai kecil dan tidak memadai jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, pasti meluber ke jalan dan permukiman," katanya.

Oleh karena itu, lanjutnya, dengan adanya pemetaan wilayah yang memiliki potensi terjadi bencana alam dengan melibatkan masyarakat tersebut, diharapkan mampu meminimalisasi dampak jika terjadi bencana.

"Strategi kami saat ini mengoptimalkan sumber daya yang ada di Kota Batu untuk meminimalisasi dampak jika terjadi bencana. Itu upaya yang kita lakukan sekarang," katanya.

Baca juga: BPBD Kota Malang catat 600 keluarga terdampak banjir bandang

Pada 4 November 2021, banjir bandang menerjang wilayah Kecamatan Bumiaji, dan menyebabkan tujuh orang meninggal dunia akibat terseret arus atau tertimbun material banjir.

Akibat kejadian itu, tercatat ada sebanyak 51 rumah rusak dan delapan di antaranya hanyut terbawa arus banjir bandang yang terjadi kurang lebih pukul 15.00 WIB itu. Selain itu, 32 rumah lainnya terendam lumpur.

Banjir bandang juga menyebabkan sebanyak 124 keluarga terdampak. Kemudian 46 kendaraan roda dua dan 11 kendaraan roda empat mengalami kerusakan.

Baca juga: BPBD Kota Batu laporkan satu korban meninggal akibat banjir bandang