BPBD Kudus pastikan semua pengungsi terdampak banjir sudah pulang

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memastikan warga terdampak banjir yang mengungsi di sejumlah tempat pengungsian sudah pulang ke rumah masing-masing, karena banjir sudah surut.

"Yang terakhir pulang, warga yang mengungsi di Balai Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus, pada Minggu (15/1) siang," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus Mundir di Kudus, Senin.

Sementara tempat pengungsian lain yang totalnya ada 12 tempat pengungsian, kata dia, ada yang sudah pulang ke rumah pada hari Jumat (13/1) dan Sabtu (14/1), termasuk pengungsi yang menempati gedung DPRD Kudus pulang ke rumah pada Sabtu (14/1) dan yang mengungsi di Balai Desa Jati Wetan.

Baca juga: Jumlah pengungsi akibat banjir di Kudus bertambah menjadi 1.076 jiwa

Ia mencatat puncak pengungsian mencapai 1.128 jiwa pada 8 Januari 2023, kemudian secara bertahap mulai ada yang pulang setelah mengetahui genangan banjir di rumahnya mulai surut.

Sementara jumlah desa terdampak, kata dia, mencapai 31 desa yang tersebar di lima kecamatan, yakni Kecamatan Mejobo, Jati, Undaan, Kaliwungu, dan Jekulo.

"Mayoritas desa terdampak banjir saat ini genangannya sudah surut. Kalau akses jalan masih ada airnya, tetapi sudah bisa dilalui kendaraan," ujarnya.

Hal itu, kata dia, bisa dilihat pada jalan menuju Desa Setrokalangan yang sebelumnya tidak bisa dilalui kendaraan roda dua, kini sudah bisa. Demikian pula jalan menuju Desa Karangrowo juga sudah bisa dilalui, meskipun beberapa titik masih ada airnya.

Kalau nanti ada desa yang kembali terdampak banjir, BPBD Kudus siap menyiapkan tempat pengungsian beserta dapur umumnya.

Baca juga: Pemkab Kudus jamin logistik untuk pengungsi banjir cukup

Baca juga: Jumlah pengungsi akibat banjir di Kudus mulai berkurang

"Mudah-mudahan tidak terjadi banjir lagi. Genangan banjir di Desa Jati Wetan saat ini tidak perlu lagi dibuang menggunakan mesin pompa, karena pintu keluarnya sudah bisa dibuka untuk dibuang ke Sungai Wulan," ujarnya.

Menurut dia, hal itu tidak terlepas dari debit air Sungai Wulan yang semakin kecil, sehingga memungkinkan mengurangi genangan banjir cukup dengan membuka pintu air menuju Sungai Wulan.