BPDPKS edukasi mitos dan fakta kelapa sawit RI ke guru dan siswa

·Bacaan 2 menit

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bekerja sama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Tengah mengedukasi mengenai industri kelapa sawit Indonesia beserta dengan mitos dan faktanya pada guru dan siswa dari 35 kabupaten/kota di seluruh Jawa Tengah.

Dalam keterangan tertulis BPDPKS yang diterima di Jakarta, Senin, kegiatan Palm Oil Edutalk dengan tema Kupas Tuntas Mitos dan Fakta Kelapa Sawit ini diselenggarakan secara daring dan luring agar guru dan peserta didik bisa memahami pentingnya sektor pertanian andalan Indonesia tersebut dan mendapatkan fakta tentang industri tersebut agar tidak terpengaruh kampanye hitam.

“Manfaat sawit harus dipahami oleh semua pihak, dan guru adalah sosok orang yang paling memungkinkan memberikan efek yang sangat cepat untuk menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat dan peserta didik,” kata Ketua PGRI Provinsi Jawa Tengah Muhdi.

Kepala Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Siswanto menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik maupun peserta didik untuk memahami dengan betul informasi tentang industri kelapa sawit di Indonesia.

Siswanto mengatakan bahwa industri perkebunan kelapa sawit Indonesia telah menunjukkan pencapaian yang sangat pesat dan berdampak positif terhadap perekonomian nasional, baik dari segi kontribusinya terhadap pendapatan negara maupun besarnya tenaga kerja yang terserap.

Selain itu, lanjut dia, sektor industri perkebunan kelapa sawit juga terbukti mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar perkebunan sawit dengan persentase penduduk miskin di sekitar perkebunan sawit jauh lebih rendah dibandingkan angka penduduk miskin nasional.

“Industri minyak kelapa sawit dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Siswanto.

Sementara itu, Sekretaris Umum PGRI Jawa Tengah Aris Munandar mengatakan bahwa tingkat pemahaman guru dan siswa tentang kelapa sawit menjadi meningkat setelah mengikuti kegiatan ini.

Aris juga mendukung apabila nantinya informasi tentang kelapa sawit ini menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran pada instansi Pendidikan. “Informasi tentang sawit dapat menjadi suplemen dalam kurikulum pembelajaran. Atau mungkin sebagai kurikulum muatan lokal untuk bisa memberikan tingkat pemahaman yang lebih baik kepada anak-anak,” kata Aris.

Meskipun berkontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat dunia dan perekonomian nasional, kelapa sawit masih saja menghadapi banyak tantangan.

Selain persaingan ekonomi global, maraknya isu-isu negatif dan belum dipahaminya manfaat kelapa sawit secara menyeluruh menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan di dalam negeri. Tidak hanya berdampak pada munculnya persepsi negatif di masyarakat awam, stigma negatif sawit ini secara terstruktur juga menyasar generasi muda dan peserta didik di sekolah.

Baca juga: Moeldoko: Uni Eropa masih butuh kelapa sawit Indonesia
Baca juga: Apkasindo: Provinsi sentra sawit miliki NTP tinggi
Baca juga: Menteri pertanian dorong akselerasi replanting kebun sawit di Jambi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel