BPIP gelar Literasi Digital Pancasila peringati Sumpah Pemuda

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar kegiatan Literasi Digital Pancasila di Sekolah Menengah Kejuruan Swasta (SMKS) 28 Oktober 1928 (1) dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda.

“​​Kami melihat semangat yang luar biasa dari pendidik di SMKS 28 Oktober 1928 (1) untuk membekali para siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan agar mereka dapat langsung memasuki dunia kerja di perhotelan setelah selesai pendidikan, sehingga mereka mulai dapat membantu meningkatkan kesejahteraan individu dan keluarganya,” kata Direktur Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP Aris Heru Utomo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Ketika para siswa mendengar BPIP dan ID-COP akan mengadakan kegiatan di sekolah mereka, tutur Aris, para guru dan siswa sangat antusias karena memiliki kesempatan untuk memperkuat wawasan ideologi Pancasila, serta meningkatkan literasi digital para siswa, apalagi nama sekolahnya identik dengan Sumpah Pemuda 1928, yang mengusung semangat persatuan Indonesia.

Menurut Aris, melalui kegiatan Literasi Digital Pancasila, diharapkan para siswa dapat memperoleh pemahaman mengenai empat pilar literasi digital yaitu ketrampilan digital, etika dan budaya digital, dan keamanan digital.

Ketika para siswa sudah memahami empat pilar digital tersebut, maka diharapkan akan diperoleh kemampuan untuk mengelola diri di ranah digital, seperti dapat mengenali dan mencari sumber-sumber informasi yang benar dan dapat membentengi diri dari berita-berita bohong.

“Yang tidak kalah penting, para siswa diharapkan dapat memproduksi konten-konten positif di ranah digital, yang dapat memperkuat karakter Pancasila di kalangan generasi muda, seperti berketuhanan, berperikemanusiaan, memelihara persatuan, mandiri, kreatif, beretika, dapat bermusyawarah, dan berkeadilan sosial,” ucap Aris.

Dari percakapan dengan Kepala Sekolah SMKS 28 Oktober 1928 (1) Badriah, Aris mengetahui bahwa sejak berdirinya sekolah tersebut, semangat bergotong royong sudah ditanamkan dan diaktualisasikan dalam pelaksanaan pendidikan.

Sebagai contoh, sudah sejak lama sekolah tersebut berkolaborasi atau bergotong royong dengan berbagai hotel berbintang untuk memastikan para siswa memperoleh kesempatan untuk mengikuti pelatihan dalam bentuk magang dan dapat memperoleh pekerjaan setelah lulus sekolah.

Sementara itu, terkait nama sekolah, Badriah, menjelaskan alasan penamaan “28 Oktober 1928”.

Menurutnya, para pendiri sekolah, yang pada saat itu masih berusia muda, terinspirasi dengan integritas dan semangat para pemuda peserta Kongres Pemuda 27-28 Oktober 1928.

“Para pendiri sekolah yang tergabung dalam Yayasan Nurul Falah berharap para siswa yang belajar di sekolah ini akan memiliki integritas seperti para peserta Kongres Pemuda 1928,” ujar Badriah.