BPPT Beri Sentuhan Teknologi bagi Pelaku Industri Kreatif Batik

Syahdan Nurdin, cely0731-649
·Bacaan 5 menit

VIVA – Dalam upaya mendorong penggunaan lilin batik (malam) berbasis sawit kepada para pengrajin dan stakeholder industri kreatif batik, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Pusat Teknologi Agroindustri (PTA BPPT ), adakan Sosialisasi dan Workshop Malam Batik Berbasis Sawit Kepada UKM Batik.

Kegiatan ini berkerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang dilaksanakan di sentra-sentra batik Indonesia melalui WEBINAR KEMITRAAN UKM BATIK SAWIT secara daring (8/4).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno dalam sambutannya mengatakan amat sangat mengapresiasi workshop malam batik berbasis sawit ini karena pernah berkecimpung di bisnis kelapa sawit yang membuka begitu banyak lapangan perkerjaan bagi masyarakat Indonesia.

Kemenparekraf akan terus mendukung upaya pelestarian batik dan inovasi untuk kolaborasi industri sawit untuk warisan kemanusiaan untuk budaya yang sudah 11 tahun menjadi kebangaan Indonesia, batik juga sektor yang didominasi oleh industri kecil menegah yang menjadi perhatian khusus, ada 101 sentral batik di Indonesia , dan 47.000 unit usaha yang serapan tenaga kerjanya lebih dari 200.000 orang.

Batik merupakan penggerak dan pemacu roda perekonomian , batik bisa menjadi lokomotif Indonesia keluar dari pandemi dan keterpurukan ekonomi, ujar Sandiaga. Yang menarik disini adalah dengan menggunakan lilin batik/malam dengan formulasi menggunakan paraffin seperti kita ketahui bahwa paraffin didapat dari penyulingan minyak bumi yang cadangannya semakin menipis.

Sebagian besar masih diimpor jika kita bangga dengan produk Indonesia harus ditingkatkan TKDN nya. Oleh karena itu hari ini diluncurkan paraffin sumber daya yang lestari dari energi terbarukan bersumber daya local, semoga bio paraffin dapat segera dikembangkan dan dari sawit akan menjamin ketersediaannya.

Dan kedepan kita ingin ekomomi kreatif dapat lebih berkualitas dan berkelanjutan , dan semoga malam batik berbasis sawit ini dapat berkontribusi besar pada produksi batik Indonesia ke depannya.

Kepala BPPT Hammam Riza dalam sambutannya mengatakan Acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara Sosialisasi dan Workshop Penggunaan Malam / Lilin Batik Berbasis Sawit yang bertujuan mengenalkan produk inovasi teknologi berbahan baku turunan minyak sawit berupa produk “Bio-Pas” pengganti paraffin dalam malam/lilin batik, kepada masyarakat khususnya komunitas pelaku industri kreatif batik.

Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan kolaborasi setidaknya tiga pemangku kepentingan yang dikenal dengan nama Triple Helix yaitu lembaga kajian/riset BPPT , Regulator/Pemerintah (BPPT, BPDPKS Kemenkeu, Kemenperin), Bisnis (Industri Sawit diwakili DMSI dan Industri /UKM Batik), Komunitas (Yayasan Batik Indonesia).

Sumbangan devisa dari industri ini pada periode januari – juli tahun 2020 mencapai USD 21,54 juta, Tantangan industri batik ke depan diantaranya adalah bagaimana produk batik dapat menyesuaikan dengan perubahan tuntutan pasar dan perubahan perubahan yang terjadi di era industri saat ini.

Saat ini Indonesia mulai memasuki revolusi industri 4.0. Dimana kita akan bersentuhan dengan beragam teknologi canggih, seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), wearables, robotika canggih, 3D printing, Big Data, Cloud System.

Industri sawit kita walaupun telah menjadi industri yang kuat namun tetap menghadapi tantangan yang besar. Di pasar internasional berbagai persyaratan yang harus dipenuhi oleh produk komoditas ini menjadi salah satu hambatan yang serius. Industri sawit memerlukan dukungan untuk menjaga keseimbangan produksi dan konsumsinya.

Peningkatan serapan produk minyak sawit di dalam negeri menjadi penting dalam upaya menjaga kestabilan harga. Dalam rangka penyerapan minyak sawit di dalam negeri pemerintah telah menerapkan kebijakan pembuatan biodiesel hingga B 30 dimana BPPT terlibat secara intensif dalam perumusan kebijakan dan uji kelayakan teknisnya.

Inovasi bio-pas juga dalam rangka peningkatan penyerapan minyak sawit nasional selain untuk penyediaan bahan baku yang bersumber dari produk terbarukan bagi industri batik. Semua ini dilakukan dalam rangka menjalankan peran BPPT sebagai lembaga pemerintah yang berfungsi sebagai lembaga pengkajian dan penerapan teknologi.

Hammam menambahkan Kegiatan ini dipandang sangat penting, karena merupakan bagian dari implementasi dan hilirisasi dari teknologi yang dikembangkan oleh BPPT, khususnya di bidang agroindustri berbasis minyak sawit, terlebih lagi setiap inovasi teknologi yang dikembangkan BPPT, diharapkan dapat memberikan kemanfaatan bagi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan UU Sinas IPTEK no.11/2019, BPPT merupakan salah satu lembaga pengampu litbangjirap, yang secara aktif dan berkelanjutan menjalankan perannya untuk menghasilkan inovasi.

Di dalam suatu ekosistem inovasi teknologi, BPPT bersama-sama para stakeholder seperti Perguruan Tinggi, Komunitas yang berada di masyarakat, pelaku industri, media massa, pemerintah pusat maupun daerah melaksanakan bersinergi untuk menumbuh kembangkan perekonomian.

Sementara itu Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB BPPT) Soni Solistia Wirawan mengatakan pada laporannya acara ini bertujuan untuk memperkenalkan produk inovasi berbahan baku turunan sawit berupa produk malam batik kepada komunitas pelaku industri kreatif batik, memperkenalkan potensi industry batik kepada pelaku usaha industry berbasis tanaman sawit serta hilirisasi hasil riset berbasis turunan sawit kepada pelaku usaha di dalam negeri.

Kebutuhan paraffin batik pada tahun 2019 adalah 36.000 ton, yang melibatkan lebih dari 55.000 perusahaan batik kecil maupun menengah. Keunggulan paraffin batik ini, adalah terbuat dari bahan yang dapat diperbarui (renewable material), halal, ramah lingkungan dan dapat meningkatkan nilai tambah tanaman sawit.

Kegiatan riset, pembuatan “malam” batik berbahan baku sawit ini, merupakan kegiatan inovasi teknologi BPPT yang telah diawali beberapa tahun yang lalu. Kegiatan ini, diawali penyusunan formula malam batik dan diujikan di Balai Besar Kerajinan dan Batik – Kementerian Perindustrian di Jogyakarta, kemudian dilanjutkan pengenalan produk inovasi ini kepada pengrajin pada industry kreatif batik untuk memperoleh masukan (feed back) untuk menyempurnakan kualitas malam batik berbahan baku sawit ini, ujar Soni.

Sebagai informasi Acara Webinar secara online dihadiri sekitar 500 peserta yang mewakili berbagai Kementerian, Asosiasi dan komunitas seperti : Kemenko Perekonomian, APOLIN (Asosiasi Olekimia Indonesia), MAKSI (Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia), GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit), PTPN Holding, Asosiasi Pengrajian dan Pengusaha Batik Indonesia, Peneliti di Badan Litbang, Perguruan Tinggi dll.

Diharapkan melalui Workshop Penggunaan Malam/Lilin Batik Berbasis Sawit kepada UKM Batik dan Webinar Kemitraan UKM Batik Sawit ini, masyarakat industri batik dapat lebih berdaya dalam menghadapi tantangan yang ada, dan menjadikan BPPT sebagai bagian solutif dalam mengatasi permasalahan nasional, serta teknologi yang diterapkannya menjadi penghela peningkatan perekonomian masyarakat di tingkat lokal, regional maupun, nasional.