BPPTKG: Perubahan Morfologi Picu Potensi Bencana Gunung Merapi

Daurina Lestari, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menemukan adanya perubahan morfologi di puncak Gunung Merapi. Perubahan morfologi ini memengaruhi potensi bahaya erupsi Gunung Merapi.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso menerangkan jika perubahan morfologi terjadi karena aktivitas guguran dan munculnya kubah lava 2021. Perubahan ini disebut Agus terjadi di sisi barat Gunung Merapi.

Agus menilai perubahan morfologi ini membuat potensi bahaya dan arah erupsi pun berubah. Saat ini erupsi Gunung Merapi mengarah ke sisi selatan dan barat daya.

"Potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal lima kilometer," ucap Agus dalam jumpa pers daring, Sabtu 16 Januari 2021.

Baca juga: Tawaran Kereta Cepat JKT-SBY ke China Berbeda Rute dengan Jepang

Agus memaparkan berdasarkan data per 15 Januari 2021, probabilitas erupsi Gunung Merapi mengarah ke efusif. Agus menjabarkan bahwa potensi Gunung Merapi erupsi secara eksplosif dinilai menurun signifikan.

Kondisi ini dibuktikan dengan data sepekan terakhir perkembangan Gunung Merapi yang dirilis oleh BPPTKG Yogyakarta. Agus menguraikan bahwa aktivitas seismik, deformasi dan gas di Gunung Merapi menurun signifikan.

"Saat ini (Gunung Merapi) sudah (fase) erupsi dan cenderung bersifat efusif, serta memperhatikan arah erupsi saat ini, maka potensi dan daerah bahaya berubah," kata Agus.

Jarak luncur awan panas sejauh 1,5 kilometer

Gunung Merapi memuntahkan awan panas guguran pada Sabtu, 16 Januari 2021 pukul 04.00 WIB. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat jarak luncur awan panas guguran ini sejauh 1,5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG, Agus Budi Santoso mengatakan, sejak dinyatakan masuk ke fase erupsi pada 4 Januari 2021, Gunung Merapi telah mengeluarkan 7 kali awan panas guguran. Dari 7 kali awan panas guguran ini, jarak luncuran terjauh terjadi pada Sabtu, 16 Januari 2021.

"Awan panas tadi pagi menjadi yang terjauh. Jarak luncurnya 1,5 kilometer dan tinggi kolom 500 meter," ujar Agus dalam jumpa pers daring.

Agus menerangkan meskipun menjadi awan panas guguran dengan jarak terjauh, namun skala erupsi dinilai masih kecil. Alasan ini yang membuat BPPTKG Yogyakarta masih menetapkan status Gunung Merapi di level Siaga.

Agus menjabarkan jika hingga saat ini BPPTKG Yogyakarta masih merekomendasikan jarak bahaya ada di radius 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Agus menambahkan saat ini BPPTKG merekomendasikan penambangan di alur sungai-sungai yang berhulu di Merapi dalam KRB III agar dihentikan.

Selain itu, sambung Agus, pelaku wisata diimbau tidak melakukan kegiatan wisata di KRB III Merapi termasuk kegiatan pendakian ke puncak Merapi.