BPS catat masyarakat mulai konsumsi kebutuhan tersier di triwulan I

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyebutkan masyarakat mulai mengonsumsi kebutuhan tersier, yang menyebabkan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi berhasil tumbuh tinggi pada triwulan I 2022.

"Selain karena faktor mobilitas yang semakin baik, di sisi lain masyarakat sudah mulai lakukan konsumsi atau kegiatan yang bersifat tersier seperti hotel, angkutan, restoran, dan sebagainya di samping kebutuhan pokok," kata Margo dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Dengan pertumbuhan 4,34 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy), konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi ekonomi Indonesia pada triwulan I 2022, yakni dengan peran 2,35 persen.

Selain konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang menjadi komponen investasi turut menjadi sumber pertumbuhan tertinggi perekonomian Indonesia dengan andil 1,33 persen dan berhasil tumbuh 4,09 persen (yoy) pada kuartal pertama tahun ini.

Margo menjelaskan faktor pendukung pertumbuhan PMTB adalah peningkatan penjualan semen dalam negeri, serta volume penjualan kendaraan untuk barang modal dari domestik maupun impor.

Sementara itu, komponen pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut pengeluaran lainnya yakni ekspor berhasil tumbuh melesat sebesar 16,22 persen (yoy).

"Ini disebabkan oleh peningkatan harga komoditas terutama yang menjadi andalan produk Indonesia," tambahnya.

Dengan demikian, ia menyampaikan ekspor menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi lainnya pada triwulan I-2022 dengan andil 0,82 persen.

Sedangkan komponen lainnya yakni impor, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), dan konsumsi pemerintah memberi peranan 0,51 persen kepada pertumbuhan ekonomi domestik.

Adapun impor tercatat meningkat 15,03 persen pada kuartal I 2022 dan konsumsi LNPRT tumbuh 5,98 persen, namun konsumsi pemerintah terkontraksi 7,74 persen yang disebabkan menurunnya belanja barang dan sosial seiring dengan kondisi pandemi yang semakin baik.

"Kita ingat betul tahun lalu di triwulan I kasus lonjakan COVID-19 tinggi, sehingga pemerintah mengalokasikan belanja barang dan sosial terkait penanganan COVID-19 sangat tinggi. Tetapi karena di tahun ini kondisinya membaik maka pemerintah mengurangi belanjanya," tutup Margo.

Baca juga: BPS: Ekonomi RI tumbuh 5,01 persen pada triwulan I 2022
Baca juga: BPS: Industri pengolahan jadi sumber tertinggi pertumbuhan ekonomi RI
Baca juga: BPS: Minyak goreng picu inflasi April capai 0,95 persen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel