BPS catat pertanian topang pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020

Ahmad Buchori
·Bacaan 2 menit

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertanian menjadi lapangan usaha utama yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi triwulan III-2020 yang terkontraksi sebesar 3,49 persen (yoy).

Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis, mengatakan dari lima lapangan usaha yang dominan mendukung Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sektor pertanian yang masih tumbuh positif.

"Sektor pertanian tumbuh 2,15 persen, atau hampir sama pada triwulan II-2020 sebesar 2,19 persen," katanya.

Ia menjelaskan pertumbuhan sektor pertanian itu didukung oleh panen raya kedua tanaman padi serta peningkatan permintaan buah dan sayuran maupun komoditas perkebunan seperti kakao, karet, cengkeh dan tembakau.

Pertumbuhan positif ini tidak diikuti oleh sektor lainnya seperti industri pengolahan yang masih tumbuh minus 4,31 persen, perdagangan minus 5,03 persen, konstruksi minus 4,52 persen maupun pertambangan minus 4,28 persen.

Selain lima sektor usaha yang menyumbang 64,13 persen PDB tersebut, BPS juga mencatat sektor lapangan usaha lain yang juga tumbuh positif selama periode triwulan III-2020.

Sektor tersebut adalah informasi dan komunikasi yang tumbuh 10,61 persen, jasa kesehatan 15,33 persen, jasa pendidikan 2,44 persen, pengadaan air 6,04 persen dan administrasi pemerintahan 1,86 persen.

Sektor lainnya, akomodasi dan makan minum masih tercatat tumbuh minus 11,85 persen, transportasi dan pergudangan minus 16,7 persen, real estat minus 1,98 persen dan jasa perusahaan minus 7,61 persen.

Meski terdapat sektor yang terkontraksi, Suhariyanto mengatakan pemulihan ekonomi mulai terjadi karena rata-rata lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif secara kuartalan.

"Masih terkontraksi, tapi tidak sedalam triwulan II. Jadi ada perbaikan, yang arahnya harus terus dijaga dengan optimisme bersama," katanya.

BPS mencatat perekonomian masih mengalami kontraksi 3,49 persen pada triwulan III-2020 karena perbaikan ekonomi masih terhambat tingginya kasus COVID-19.

Dengan kondisi ini, maka Indonesia resmi mengalami resesi seperti yang sudah dialami berbagai negara yang terdampak COVID-19, karena selama dua triwulan berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif.

Baca juga: BPS: Ekonomi menunjukkan tanda pemulihan, meski masih terkontraksi

Baca juga: Ekonomi RI kontraksi 3,49 persen, pengamat nilai masih dalam

Baca juga: BPS: Ekonomi Indonesia triwulan III-2020 minus 3,49 persen