BPS: impor Maret 2021 tumbuh menggembirakan, capai 16,79 miliar dolar

Risbiani Fardaniah
·Bacaan 2 menit

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan pertumbuhan impor Indonesia pada Maret 2021 menggembirakan yakni mencapai 16,79 miliar dolar AS, yang artinya naik 26,55 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya, dan naik 25,73 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

“Impor Maret 2021 tumbuh menggembirakan baik secara month on month (mom) dan year on year (yoy) naik tinggi. Tumbuh positif sejak Februari 2021,” kata Kepala BPS Suhariyanto saat menggelar konferensi pers secara virtual di Jakarta, Kamis.

Suhariyanto menyampaikan pertumbuhan positif pada impor berdasarkan seluruh penggunaan barang menjadi penyebab impor Maret 2021 naik tinggi. Misalnya, kata dia, untuk impor barang konsumsi mengalami kenaikan 15,51 persen (mom) dan naik 13,40 persen (yoy).

Baca juga: BPS: Ekspor Maret 2021 bagus sekali, tertinggi sejak Agustus 2011

Beberapa barang konsumsi yang mengalami kenaikan tinggi, di antaranya vaksin dari China, milk and green in powder dari Selandia Baru, raw sugar dari India, mesin AC dari Thailand, dan jeruk mandarin dari China.

Sedangkan, untuk impor bahan baku/bahan penolong mengalami pertumbuhan paling tinggi, yakni mencapai 31,10 persen (mom) dan naik 25,82 persen (yoy).

“Ada beberapa yang mengalami peningkatan cukup tajam, misalnya oil cake and other solid residues, ada power transmision apparatus yang kita impor dari China,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Baca juga: BPS: Neraca perdagangan RI surplus 1,57 miliar dolar pada Maret 2021

Sedangkan untuk impor barang modal, kenaikannya mencapai 11,85 persen (mom) dan 33,70 persen (yoy).

Dengan demikian, secara kumulatif nilai total impor pada triwulan I/2021 yakni 43,38 miliar dolar AS atau naik 75 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun impor utamanya yakni mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 14,54 persen.

“Jadi tentunya ini mengindikasikan peningkatan impor bahan baku menunjukkan geliat manufaktur yang mulai bergerak, sementara barang modalnya kita harapkan berpengaruh terhadap komponen investasi yang ada pada Produk Domestik Bruto (PDB),” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Baca juga: BPS ingatkan waspadai penurunan impor bahan baku dan barang modal